Mendag Harga minyak goreng naik dipicu lonjakan harga plastik kemasan. Biaya produksi melambung, konsumen diminta waspada terhadap fluktuasi harga di pasar. Tangerang, Camelosatu – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui kenaikan harga minyak goreng yang terjadi belakangan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga plastik sebagai bahan kemasan Kendati demikian, ia memastikan ketersediaan pasokan minyak goreng di dalam negeri masih dalam kondisi aman dan tidak mengalami gangguan. “Pada prinsipnya stok barang ada, enggak ada masalah. Jadi ketersediaan pasokan ada. Memang salah satu imbas kenaikan itu karena harga plastik,” ujar Budi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4). Ia menjelaskan rata-rata harga Minyakita saat ini berada di kisaran Rp15.900 per liter, sedikit di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700. Sementara itu, harga minyak goreng premium di sejumlah daerah tercatat lebih tinggi, terutama di wilayah dengan tantangan distribusi seperti Papua. “Kalau kesediaan minyaknya enggak ada masalah, tetapi kan tadi faktor dari plastiknya. Makanya plastik yang harus kita selesaikan,” katanya. Menurut Budi, sebagian besar minyak goreng dijual dalam kemasan plastik, sehingga kenaikan harga bahan baku plastik di tingkat hulu ikut mendorong biaya produksi. Kondisi ini pada akhirnya berdampak pada harga jual di tingkat konsumen, termasuk untuk produk minyak goreng kemasan sederhana. “Salah satu faktornya karena kemasan, kan rata-rata kemasan dari plastik semua. Sekarang ya dari hulunya,” ujarnya. Ia menambahkan pemerintah saat ini tengah berupaya menstabilkan pasokan bahan baku plastik melalui komunikasi dengan pelaku industri. Langkah ini diharapkan dapat menekan biaya produksi dan menjaga harga minyak goreng agar tidak terus meningkat. “Ya, secepatnya (harga minyak mulai stabil), karena kita kan tidak mesti ngomongin minyaknya saja kan. Karena tadi saya bilang yang kebanyakan faktornya karena dari plastik. Ini yang plastik juga harus diselesaikan,” ucap Budi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kenaikan harga minyak goreng memang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mencatat kenaikan harga terjadi di 207 kabupaten/kota pada pekan ketiga April 2026, meningkat dari 177 daerah pada pekan sebelumnya. Artinya, lebih dari separuh wilayah Indonesia mengalami tekanan harga komoditas tersebut. Secara nasional, rata-rata harga minyak goreng tercatat naik dari sekitar Rp19.358 per liter menjadi Rp19.592 per liter. Untuk Minyakita, harga rata-rata berada di kisaran Rp15.982 per liter, sedikit melampaui HET yang ditetapkan pemerintah. Namun, di beberapa daerah, lonjakan harga terjadi lebih signifikan. BPS mencatat harga minyak goreng tertinggi bahkan menyentuh Rp60 ribu per liter di Kabupaten Intan Jaya, Papua, sementara harga terendah berada di kisaran Rp15.500 per liter. BPS menegaskan bahwa kenaikan harga ini tidak disebabkan oleh kelangkaan pasokan. Pasokan minyak goreng secara umum masih tersedia di pasar, baik untuk kategori premium, Minyakita, maupun produk alternatif lainnya. Meski demikian, tekanan harga tetap muncul dari sisi biaya produksi, terutama pada komponen kemasan. Ateng menyebut kenaikan harga plastik sebagai salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan harga minyak goreng di berbagai daerah. Dampak kenaikan harga plastik ini juga mulai merambat ke komoditas lain, seperti gula pasir, yang turut mengalami kenaikan harga karena menggunakan bahan kemasan serupa. “Terkait dengan gula pasir tersebut kami mengidentifikasikan salah satu pendorongnya ini dari kenaikan harga plastik karena plastik digunakan sebagai packaging atau kemasan di gula pasir,” tutur Ateng.
Plastic Prices Surge; Gov’t Caps at 30%
Menko Pangan akui harga plastik naik imbas kenaikan harga impor minyak dunia. Lonjakan biaya bahan baku global tekan industri dalam negeri. Tangerang, Camelosatu –Lonjakan harga plastik yang terjadi belakangan ini ramai dikeluhkan masyarakat. Kenaikannya bahkan disebut tidak wajar karena mencapai dua hingga tiga kali lipat di pasaran, sehingga turut membebani kebutuhan sehari-hari, terutama para pelaku UMKM di sektor pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah tengah berusaha menekan kenaikan harga plastik. Dia mengakui kenaikan harga plastik ini terpengaruh langsung harga impor minyak dunia. “Karena plastik itu kan tergantung kepada impor minyak kan,” kata Zulhas kepada wartawan di SMA N 1 Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (16/4/2026). Menurutnya, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kenaikan di lapangan yang sudah mencapai 60 hingga 70 persen. Saat ini, pemerintah tengah memanggil sejumlah pengusaha biji plastik untuk mencari solusi agar lonjakan harga bisa ditekan. “Sedang kita atasi, kita sedang panggil beberapa pengusaha yang untuk biji plastik. Nanti gimana kira-kira agar ini tidak terlalu kenaikannya kira-kira 30 (persen), tapi di pasar ada yang sampai 60 sampai 70 (persen), ya gitu. Jadi mestinya kan kalau naik 30-an (persen),” katanya. Di sisi lain, Zulhas juga membuka peluang penggunaan bahan alternatif sebagai pengganti plastik. Dia menilai, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya organik yang bisa dimanfaatkan untuk menekan ketergantungan terhadap plastik berbasis minyak. “Kalau itu bisa, plastik diganti organik bagus sekali,” ucapnya. Dampak ke Sektor Pangan Zulhas juga menyinggung soal dampak kenaikan harga plastik yang turut dirasakan pada sektor pangan. Meski harga bahan pokok relatif stabil, lonjakan harga kantong plastik justru membuat biaya belanja masyarakat ikut meningkat. “Beras enggak naik, ayam enggak naik, minyak bensin enggak naik, semua enggak naik. Tapi kalau plastiknya enggak ada kan gimana? Itu kan beras harus pakai kantong, ya kan. Kantongnya ini kan yang repot nih kalau enggak ada. Kalau masih naik aja masih mending juga. Kadang-kadang yang dulu Rp 500 sekarang Rp 2.000. Kan nambah beras mahal sekali itu,” katanya. Zulhas menegaskan pemerintah akan terus berupaya menstabilkan harga plastik agar tidak semakin membebani masyarakat, sekaligus memastikan pasokan tetap tersedia di pasaran.
Plastic Prices Surge, Ice Profits Melt 20%
Harga plastik naik, pedagang es di Medan mengeluh keuntungan anjlok hingga 20%. Beban modal makin berat, pedagang dilema naikkan harga Tangerang, Camelosatu – Pedagang es di Kota Medan mengeluh karena ada kenaikan harga plastik. Melambungnya harga plastik membuat keuntungan pedagang ikut turun hingga 20 persen. “Terasa loh turun keuntungan itu, kalau dihitung mungkin ya 10 atau 20 persen lah. Mungkin sepele ya naiknya plastik, tapi pembeli kan ngga satu jadi terasa kali,” ujar pedagang es, Anggi, Selasa (21/4/2026). Anggi mengaku tidak bisa mencari alternatif lain pengganti plastik sebagai wadah. Ia menyebut jika harga plastik terus naik, maka kemungkinan harga jual dagangannya juga akan naik. “Karena aku jual es kan, kalau nggak plastik mau pakai apa? Pakai cup belum untuk nge-seal nya plastik juga, abis itu nggak mungkin yang beli nggak dikasih plastik gimana bawa nya. Kalau terus naik mau nggak mau harganya naik sikit,” lanjutnya. Pedagang lain, Siti mengaku karena kenaikan harga Styrofoam, dirinya terpaksa menambahkan harga seribu rupiah jika pelanggan tidak makan di tempat. “Bubur aku pakai styrofoam, di bawahnya dilapisi plastik karena katanya nggak bagus styrofoam kena makanan langsung. Kalau yang nggak makan ditempat harganya aku tambahin seribu,” ujarnya. Menurut Siti menaikkan harga dagangan merupakan langkah yang tepat dibandingkan harus menurunkan kualitas makanan atau mengurangi porsinya. “Menurutku lebih baik dinaikkan daripada harus turun kualitas, apalagi kalau porsinya dikurangi, nanti pelanggan kecewa,” tutupnya. Sebelumnya (12/4/2026) diketahui bahwa harga plastik memang sedang naik. Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Disperindag ESDM Sumut Charles Situmorang, mengungkapkan kenaikan ini terjadi lantaran beberapa faktor. Charles menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia dan juga konflik di Timur Tengah ikut mempengaruhi kenaikan harga plastik di Indonesia. “Kondisi ini terjadi bukan di Sumut saja, namun sudah skala Nasional karena faktor utamanya bahan impor yang terkendala. Kenaikan harga minyak dunia. Plastik berbahan dasar petrokimia membuat harga minyak naik yang kemudian biaya produksi plastik ikut naik,” kata Charles. “Gangguan pasokan bahan baku (nafta/resin) dan juga Konflik global menghambat distribusi dari Timur Tengah (sumber utama impor Indonesia),” lanjutnya.
Plastic Price Hikes Urges Eco-Friendly Bag
Harga Plastik Naik, Farhan imbau warga pakai kantong ramah lingkungan guna tekan biaya & jaga alam. Yuk, beralih ke tas belanja kain yang lebih hemat & awet! Tangerang, Camelosatu – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seiring dengan kenaikan harga plastik yang signifikan. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, harga plastik mengalami kenaikan berkali-kali lipat akibat peningkatan harga bahan baku petrokimia yang dipengaruhi kondisi global. “Plastik merupakan turunan dari produk petrokimia yang bergantung pada minyak bumi dan gas. Ketika harga energi meningkat, produksi menurun dan harga plastik ikut naik,” jelasnya, Senin (20/4/2026). 1. Kurangi ketergantungan pada plastik Kondisi ini berdampak pada biaya operasional pedagang serta pola konsumsi masyarakat. Sebagai langkah mitigasi, Pemkot Bandung mengimbau masyarakat untuk membawa kantong belanja sendiri yang dapat digunakan berulang kali. Selain itu, masyarakat juga dianjurkan membawa wadah pribadi saat membeli makanan untuk dibawa pulang. Upaya ini dinilai sebagai solusi praktis dalam mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekaligus menekan biaya konsumsi. “Saya mengimbau masyarakat untuk mulai membawa kantong belanja sendiri yang bisa digunakan ulang. Untuk layanan takeaway seperti GoFood, sebaiknya juga menggunakan wadah sendiri,” kata dia. 2. Pemantauan harga pasar terus dilakukan Di sisi lain, Pemkot Bandung memastikan ketersediaan bahan pokok lainnya relatif aman, khususnya beras yang masih stabil di pasaran. Namun demikian, beberapa komoditas seperti gula dan kedelai mengalami kenaikan harga akibat faktor produksi dan distribusi global. Pemkot Bandung akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di masyarakat. 3. Pemprov Jabar ikut pantau kondisi industri plastik Harga bahan baku pembuatan plastik mengalami kenaikan signifikan karena terdampak eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat harga plastik naik dan turut dikeluhkan masyarakat termasuk di Jawa Barat. Dinas Perindustrian Dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat sudah mengamati terjadinya kenaikan ini dan menghasilkan beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan agar menjaga stabilitas harga. “Beberapa hal yang sudah kami upayakan, pertama tentu saja in line dengan kebijakan dari pemerintah pusat bahwa kita akan melakukan diversifikasi supplier impor,” ujar Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani saat dikonfirmasi, Sabtu (11/4/2026). Disperindag Jabar kini sedang menginisiasi dan melakukan fasilitasi business marching untuk supplier atatif negara lain. Mengingat, Nining menyampaikan, beberapa supplier yang biasanya mengekspor bahan plastik kini dibatasi.
Plastic prices up, rice and sugar too
Harga Beras & Gula terancam naik imbas harga kemasan plastik yang meroket tajam. Biaya produksi melambung, konsumen pun harus bersiap hadapi lonjakan harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) mewaspadai potensi kenaikan harga beras dan gula, meskipun dampaknya saat ini masih relatif terbatas. Hal ini seiring dengan lonjakan harga bahan baku plastik akibat gejolak geopolitik yang mulai merambat ke sektor pangan pokok. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan gangguan pasokan plastik telah dirasakan oleh pelaku usaha pangan, terutama yang menggunakan kemasan karungan seperti beras dan gula. Kondisi ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok global, termasuk dari kawasan Timur Tengah. “Terkait plastik, itu sudah kami rapatkan juga, jadi kita sudah ketemu dengan teman-teman. Begitu ada isu plastik mengalami kekurangan pasok, kita sudah diskusi menghitung berapa sih dampaknya per kilo terhadap beras dan gula,” kata Ketut dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (19/4/2026). Berdasarkan masukan pelaku usaha, Ketut menuturkan kenaikan biaya kemasan akibat gangguan pasokan plastik berdampak langsung pada harga pangan, yakni sekitar Rp350 per kilogram untuk beras dan Rp150 per kilogram untuk gula. Menurutnya, tambahan biaya tersebut cukup signifikan sehingga perlu diantisipasi agar tidak memicu kenaikan harga lebih lanjut di tingkat konsumen. Adapun, untuk mencegah dampak lebih luas, Bapanas akan memperkuat koordinasi lintas kementerian guna memastikan pasokan plastik tetap terjaga. “Kita harus diskusi mendalam karena kalau tidak, harga akan bisa agak sedikit terkoreksi. Kami juga merencanakan rapat besar, artinya dengan kementerian lembaga terkait, untuk mencarikan solusi, karena pengaruh Rp350 memang terasa kecil, tapi berdampak karena per kilonya jadi naik,” ujarnya. Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan pasokan bahan baku plastik berupa nafta dari sejumlah negara alternatif seperti India, Afrika, hingga Amerika Serikat (AS) saat ini masih dalam proses pengiriman menuju Indonesia. Untuk diketahui, nafta merupakan salah satu bahan baku utama dalam industri petrokimia yang dihasilkan dari pengolahan minyak bumi dan digunakan untuk memproduksi berbagai produk turunan, seperti plastik, karet sintetis, hingga bahan kimia lainnya. “Harga plastik [mahal] itu kan pertama karena imbas perang di Timur Tengah. Kita impor nafta untuk bahan baku plastik dari Timur Tengah, tetapi kita sudah dapat alternatif dari India, Afrika, dan Amerika,” kata Budi saat ditemui di sela-sela Pameran Indo Intertex di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026). Meski demikian, dia berharap upaya diversifikasi pasokan nafta tersebut dapat menjaga keberlangsungan industri dalam negeri di tengah tekanan global. Di saat yang sama, pemerintah juga mulai menjajaki penggunaan LPG sebagai alternatif pengganti nafta dengan mencari sumber pasokan dari kawasan Eurasia, termasuk negara-negara di sekitar Rusia. “Kita sudah mencoba melakukan pendekatan. Dan mudah-mudahan segera selesailah krisis ini ya. Jadi mudah-mudahan plastik juga segera turun, karena kan nanti bisa dampaknya ke yang lain, kan banyak produk yang dibungkus plastik. Jadi mudah-mudahan cepat selesai,” pungkasnya.
Soaring Plastic Costs Threaten Jobs
Harga plastik melonjak tajam, industri terancam. Beban biaya produksi yang membengkak membuat buruh kini berada di bawah bayang-bayang risiko PHK massal. Lonjakan harga plastik menekan dunia usaha hingga merembet ke sektor ketenagakerjaan. Tekanan terhadap dunia usaha dipicu dinamika global yang semakin kompleks, terutama ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi dunia, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Gangguan tersebut berdampak langsung pada kenaikan harga minyak mentah dan nafta sebagai bahan baku utama petrokimia global. Selain itu, biaya logistik seperti freight, asuransi, hingga waktu pengiriman juga ikut melonjak, di tengah keterbatasan pasokan bahan baku. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, kondisi ini mendorong kenaikan harga resin plastik yang memberi tekanan signifikan terhadap biaya operasional industri. “Kondisi ini yang mendorong kenaikan harga resin plastik dan memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan ritel,” kata Shinta, Kamis, (16/4/2026) Shinta mengatakan, kenaikan harga bahan baku plastik saat ini sudah melampaui fluktuasi normal. Harga nafta tercatat naik hampir 45%, sementara resin PET melonjak hingga 60%. Di sisi lain, produsen kemasan memangkas kapasitas produksi sekitar 20-30%, yang berdampak pada kenaikan harga kemasan hingga 100-150%. Menurutnya, pelaku usaha kini berada dalam posisi sulit karena harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen demi mempertahankan daya beli, sementara biaya produksi terus meningkat. Ia menjelaskan, dampak tersebut tidak terjadi secara langsung, melainkan bertahap. Pada fase awal, perusahaan akan melakukan penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti pengurangan lembur, penyesuaian jam kerja, serta menunda ekspansi dan perekrutan tenaga kerja baru. “Pada tahap awal, dunia usaha akan melakukan langkah penyesuaian melalui efisiensi operasional, seperti penyesuaian jam kerja, pengurangan lembur, serta penundaan ekspansi dan rekrutmen,” imbuhnya. Potensi PHK Jika tekanan biaya terus meningkat dan berkepanjangan tanpa adanya kebijakan yang mendukung, kemampuan dunia usaha akan semakin terbatas. Ia memperingatkan adanya potensi pengurangan tenaga kerja, khususnya di sektor padat karya yang sangat bergantung pada kemasan plastik. “Namun, jika tekanan biaya terus meningkat, berkepanjangan dan tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung, maka kemampuan dunia usaha akan semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, risiko terhadap penyerapan tenaga kerja akan meningkat, dan dalam situasi tekanan yang berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan berujung pada pengurangan tenaga kerja, khususnya di sektor padat karya yang sangat bergantung pada kemasan plastik,” jelas Shinta. Shinta menilai kondisi ini tidak hanya berdampak pada dunia usaha, tetapi juga berpotensi menekan daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya respons kebijakan yang cepat, terukur, dan berimbang dari pemerintah. Dalam jangka pendek, pemerintah diminta memastikan ketersediaan bahan baku dan energi dengan harga yang kompetitif, termasuk menjaga pasokan gas dan listrik serta memperlancar akses bahan baku yang saat ini sangat ketat. “Pemerintah dapat mengacu pada praktik di negara lain seperti Thailand dalam menjaga stabilitas harga bahan baku plastic (pemerintah mengendalikan kenaikan harga bahan plastik agar tidak membebani konsumen), serta memperkuat pengawasan pada rantai pasok untuk memastikan mekanisme harga tetap wajar dan tidak membebani industri maupun konsumen, termasuk mengantisipasi potensi distorsi atau spekulasi harga plastik,” terang Shinta. Selain itu, ia mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui kebijakan penggunaan bahan baku daur ulang secara bertahap, disertai insentif bagi pelaku usaha serta dukungan investasi di industri daur ulang. Di saat yang sama, diperlukan kebijakan fiskal yang adaptif, termasuk relaksasi sementara bagi industri terdampak. “Selain itu, dukungan fiskal dan kebijakan yang adaptif menjadi penting, termasuk relaksasi sementara bagi industri terdampak, serta kehati-hatian dalam menambah beban regulasi baru di tengah tekanan global yang tinggi,” tuturnya. Shinta memandang momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan impor dengan memperkuat industri petrokimia domestik, termasuk mendorong penggunaan bahan baku alternatif yang lebih stabil. Dengan langkah terintegrasi, Indonesia dapat menjaga ketahanan industri sekaligus meminimalkan dampak terhadap tenaga kerja.
Plastic Prices Up, Bottled Water Spikes
Harga plastik global yang melambung memicu lonjakan harga air mineral kemasan. Produsen mulai menyesuaikan harga jual akibat pembengkakan biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku plastik berdampak langsung pada lonjakan harga air minum dalam kemasan di tingkat pedagang. Dalam waktu singkat, harga mengalami kenaikan bertahap yang membebani konsumen. Air minum kemasan gelas tercatat naik rata-rata Rp 3.000 per dus, sementara kemasan botol meningkat sekitar Rp 4.000 per dus. Kenaikan tersebut disebut berasal dari pihak pabrik akibat melonjaknya harga plastik. Pedagang air kemasan di Jalan Raya Bluto–Muncek, Sumenep, Jawa Timur, Abd Gafur mengatakan dirinya tidak memiliki pilihan selain mengikuti harga dari distributor. “Dari pabrik sudah naik, awalnya Rp12.000 per kardus, sekarang jadi Rp 15.000 per dus,” ujar Abd. Gafur Kamis, 16 April 2026. Ia mengungkapkan, kenaikan terjadi secara bertahap. Harga air kemasan gelas sempat naik Rp 2.000, kemudian kembali naik Rp 3.000 dalam waktu yang tidak lama. Akibatnya pelanggan banyak yang mengeluh. Kenaikan harga terjadi pada seluruh merek, termasuk produk lokal Sumenep. Hal ini disebabkan terdampak langsung naiknya biaya bahan kemasan. Di sisi lain, konsumen mulai melakukan penyesuaian. Salah seorang warga, Anas, mengaku terpaksa mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan untuk menekan pengeluaran. “Sekarang harus dihitung lagi antara kebutuhan dan biaya, saya kurangi konsumsi karena ekonomi terbatas,” kata Anas. Menurutnya lonjakan harga ini menambah tekanan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka harus menyesuaikan kebutuhan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
DPR minta pemerintah atasi harga plastik
Anggota DPR mendesak Pemerintah segera atasi lonjakan harga plastik yang bebani UMKM. Kebijakan strategis diperlukan guna jaga stabilitas ekonomi pasar. Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo meminta pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengatasi lonjakan harga plastik, yang semakin menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Saat harga plastik di tingkat pasar naik hingga dua kali lipat, yang terdampak bukan hanya pedagang bahan kemasan, melainkan ribuan pelaku usaha mikro, industri rumahan, hingga sektor ekonomi kreatif yang menjadikan kemasan sebagai bagian tidak terpisahkan dari nilai jual produk mereka,” kata Yoyok dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026). Politikus Partai Nasdem itu menegaskan, pemerintah tidak boleh diam dan menganggap kenaikan harga plastik sebagai persoalan biasa karena dampaknya akan meluas ke berbagai sektor. “Pemerintah jangan hanya diam saja, karena ini tanggung jawab Negara. Di sini, Pemerintah dituntut untuk menunjukkan kepiawaian dalam meredakan beratnya kondisi ekonomi akibat konflik global,” jelas Yoyok. Menurut dia, kebijakan yang ada saat ini juga dinilai belum cukup untuk meredam tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, Yoyok mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat. “Bagi saya, Pemerintah tidak cukup hanya dengan menekan harga BBM agar tidak naik. Pemerintah harus cari solusi efektif menghadapi tekanan ekonomi saat ini yang dihadapi rakyat,” ucap Yoyok. “Pemerintah harus gerak cepat menyiasati kenaikan harga. Beban ekonomi ganda masyarakat harus mendapat solusi dari Pemerintah, di sinilah ujiannya,” imbuh dia. Yoyok mengingatkan, hingga saat ini plastik masih menjadi bagian penting yang sulit dikesampingkan bagi pelaku UMKM. Untuk itu, pelaku usaha akan dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga produk atau menanggung kenaikan biaya produksi, jika tak ada intervensi dari pemerintah. “Jangan sampai sektor UMKM yang menjadi roda penggerak ekonomi Negara harus terus tergerus, sementara Pemerintah justru lebih sibuk memajaki rakyatnya,” kata Yoyok. Harga plastik naik Sebagai informasi, harga plastik di Indonesia saat ini mengalami kenaikan signifikan, berkisar 30 persen hingga 100 persen di sejumlah daerah. Harga eceran di pasar tercatat berada pada kisaran Rp 28.000 hingga Rp 49.000 per kilogram untuk jenis tertentu. Kenaikan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku seperti nafta akibat konflik di Timur Tengah. Indonesia yang masih mengimpor sekitar 60 persen bahan baku plastik, terutama dari Timur Tengah, China, dan Korea Selatan, terdampak langsung oleh lonjakan harga minyak dunia serta tingginya biaya logistik.
Gubernur DKI Sebut Harga Plastik Naik
Gubernur DKI Harga plastik naik jadi momentum inovasi! Saatnya beralih ke wadah ramah lingkungan & kreatif. Tantangan ini peluang kurangi limbah Jakarta: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut naiknya harga plastik harus dapat menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah untuk berinovasi mencari pengganti plastik sebagai wadah. Sebab, penggunaan plastik juga perlahan harus mulai dikurangi. “Kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi. Harus ada substitusinya,” kata Pramono di Jakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 12 April 2026. Pramono mengatakan penetapan harga dan upaya penanganan kenaikan harga plastik bukan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, melainkan pemerintah Pusat. Namun, menurut dia, selain berinovasi, naiknya harga plastik dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk kembali menggunakan cara membungkus secara tradisional. “Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka, untuk itu, ya, kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional pakai bungkus, daun pisang, dan sebagainya,” kata dia. Sebelumnya, harga plastik di Indonesia dilaporkan melonjak drastis, naik sekitar 30-70 persen, bahkan ada yang mencapai 100 persen pada April 2026, terutama didorong oleh gangguan pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Harga plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per bungkus (pak). Sementara itu, jenis lain meningkat dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per bungkus. Pemerintah pusat menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk merespons kenaikan harga bahan baku plastik dan berbagai komoditas lain yang terdampak dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah saat ini fokus memantau intensif terhadap pergerakan harga komoditas dunia, sekaligus menyiapkan langkah mitigasi agar dampaknya terhadap industri dan masyarakat dapat ditekan. Menurut dia, pemerintah menyadari gejolak global, termasuk kenaikan harga energi, berpengaruh langsung terhadap sektor industri dalam negeri. Salah satunya industri plastik yang bahan bakunya masih impor.
Harga Plastik Naik, Ini Penyebab Utamanya
Harga plastik naik! Ini penyebab utamanya: lonjakan harga bahan baku global dan biaya logistik yang mahal Industri terhimpit Belakangan ini, banyak pelaku usaha hingga masyarakat mulai merasakan kenaikan harga plastik. Mulai dari kantong belanja hingga bahan kemasan, harganya perlahan merangkak naik. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya yang menyebabkan harga plastik ikut melonjak? Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga plastik adalah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang terjadi di wilayah tersebut berdampak pada terganggunya distribusi energi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan minyak dunia. Ketidakstabilan ini menyebabkan harga minyak meningkat, yang kemudian berimbas pada naiknya biaya bahan baku petrokimia seperti nafta sebagai komponen utama dalam produksi plastik. Kenaikan harga plastik juga dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok global. Ketika distribusi bahan baku terganggu, waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biaya logistik meningkat. Bahkan, perubahan rute pengiriman akibat konflik dapat membuat ongkos transportasi semakin mahal, yang akhirnya dibebankan pada harga produk akhir. Berdasarkan laporan dari Greenpeace Indonesia, ketergantungan industri plastik terhadap bahan bakar fosil menjadi salah satu akar masalah utama. Selama bahan baku plastik masih bergantung pada minyak dan gas, maka harga plastik akan terus rentan terhadap fluktuasi energi global dan konflik internasional. Hal ini juga disampaikan oleh Budi Santoso selaku Menteri Perdagangan, dikutip dari Investor.id. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi gangguan distribusi maupun kenaikan harga di pasar global. Industri plastik di Indonesia memiliki peran yang cukup penting dalam berbagai sektor. Mulai dari kebutuhan pangan, kemasan logistik, hingga industri manufaktur, semuanya bergantung pada ketersediaan bahan plastik. Namun, struktur industri ini masih menghadapi tantangan besar karena tingginya ketergantungan pada bahan baku impor, terutama nafta sebagai komponen utama produksi. Kenaikan harga plastik menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap bahan berbasis fosil memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada industri tetapi juga kehidupan sehari-hari. Di tengah kondisi ini, mulailah beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan atau material biodegradable bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Selain membantu mengurangi penggunaan plastik, pilihan ini juga mendukung upaya menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang harganya tidak stabil.