Harga plastik naik 50%: Beban berat bagi UMKM dan ancaman inflasi pangan, sekaligus alarm bagi RI untuk mempercepat kemandirian bahan baku industri domestik. Tangerang, Camelosatu 1. Fenomena Lonjakan Harga Lonjakan harga plastik di Indonesia yang mencapai 50% dalam beberapa bulan terakhir bukanlah sekadar fluktuasi pasar biasa. Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS), konsumsi plastik nasional tahun 2024 mencapai 7,7 juta ton, memposisikan Indonesia sebagai salah satu konsumen terbesar di Asia Tenggara. Namun, tingginya konsumsi ini berbanding lurus dengan rapuhnya ketahanan industri akibat ketergantungan ekstrem pada bahan baku impor. 2. Peta Ketergantungan Bahan Baku (Resin Plastik) Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia mengimpor 3,2 juta ton biji plastik senilai USD 4,8 miliar. Struktur pemasok utama meliputi: Ketergantungan yang terkonsentrasi pada wilayah-wilayah ini menyebabkan industri domestik sangat terekspos terhadap risiko geopolitik global. 3. Dampak Eskalasi Geopolitik dan Komoditas Global Ketegangan di Timur Tengah (khususnya di Selat Hormuz) telah memicu efek domino pada biaya produksi: 4. Studi Komparatif: Respon Negara Tetangga Indonesia perlu merefleksikan strategi yang diambil oleh negara-negara kompetitor di kawasan: 5. Implikasi Terhadap UMKM dan Daya Beli Sektor UMKM, khususnya di bidang makanan dan minuman (64 juta pelaku usaha), menjadi pihak yang paling terdampak: 6. Strategi dan Solusi Jangka Panjang Kebijakan jangka pendek seperti pelonggaran tarif impor hanya bersifat temporer. Solusi fundamental yang diperlukan adalah: A. Akselerasi Hilirisasi Petrokimia Memanfaatkan cadangan gas bumi nasional sebesar 43,97 triliun kaki kubik (data KESDM 2024). Proyek strategis seperti: B. Diversifikasi Mitra Impor Mengurangi risiko dengan membuka jalur kerja sama baru dengan produsen di Amerika Latin (Brasil, Meksiko) dan Afrika Utara guna menghindari ketergantungan pada blok wilayah tertentu. C. Transisi Hijau dan Dukungan Regulasi Mendorong penggunaan kemasan alternatif (kertas, tas daur ulang) melalui: 7. Kesimpulan Krisis harga plastik ini adalah “alarm” bagi kedaulatan industri nasional. Tanpa visi jangka panjang yang berfokus pada penguatan ekosistem petrokimia hulu ke hilir, ekonomi Indonesia akan terus tersandera oleh dinamika global. Momentum ini harus dijadikan batu loncatan untuk membangun fondasi industri yang mandiri dan berkelanjutan.
Stop Paying for Trash. Switch Now!
Harga plastik naik? Yuk, kurangi limbah dengan bawa tas belanja sendiri, wadah makan, dan botol minum. Hemat pengeluaran sekaligus jaga lingkungan tetap asri! Tangerang, Camelosatu – beberapa akhir ini masyarakat dihebohkan dengan kenaikan harga plastik di pasaran. Masyarakat terutama pedagang kecil hingga industri besar harus menyesuaikan biaya operasional mereka sebagai akibat lonjakan harga plastik. Plastik selama ini dianggap murah dan praktis namun kini justru menjadi beban dalam aktivitas sehari-hari. Kenaikan harga plastik ini saat ini dilandasi berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah karena adanya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sedang mengalami konflik. Konflik tersebut berdampak pada proses distribusi energi global di jalur sekat Hormuz yang merupakan pusat perdagangan minyak dunia. Hambatan inilah yang menyebabkan harga minyak meningkat dan membuat bahan baku petrokimia nafta meningkat. Padahal bahan tersebut merupakan bahan utama dalam pembuatan plastik. Kondisi ini membuat produsen menaikkan harga jual, yang pada akhirnya berdampak langsung pada konsumen. Tidak sedikit pelaku usaha yang terpaksa menaikkan harga produk atau mencari alternatif kemasan lain. Namun dibalik itu semua, justru menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengubah perilaku mereka ke arah yang lebih bijak dalam menggunakan plastik. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini penggunaan plastik sekali pakai sulit untuk dihindari. Dengan naiknya harga ini, mau tidak mau akan mendorong masyarakat untuk menggunakan plastik secara efisien bahkan mulai menguranginya. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan plastik. Hal tersebut seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumblr atau botol minum isi ulang, sera menghindari penggunaan sedotan. Kebiasaan kecil ini jika dilakukan secara berkelanjutan akan memiliki dampak yang signifikan. Langkah ini bisa mengurangi jumlah sampah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu, masyarakat juga bisa beralih dengan menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan. Saat ini telah banyak opsi lain untuk mengganti kemasan plastik seperti kertas, kain, dan bahan biodegradable yang mudah terurai. Meski di awal lebih mahal, namun bahan ini bisa digunakan dalam jangka panjang dan menjadi lebih ekonomis. Kenaikan harga plastik ini justru menjadi pengingat bagi kita bahwa kita tidak seharusnya bergantung pada plastik. Dengan langkah yang sederhana diimbangi dengan kesadaran, masyarakat secara perlahan akan bisa mengatasi dampak kenaikan harga plastik sekaligus bisa berkontribusi dalam menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik.
Mideast War Plastic Prices Soar! Buy Now!
Konflik Timur Tengah picu lonjakan harga plastik di Indonesia secara drastis. Gangguan distribusi global jadi faktor utama kenaikan biaya bahan baku industri. Tangerang, Camelosatu – Kenaikan harga plastik merupakan efek domino dari dinamika global yang langsung melanda pasar dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri. Harga bahan pokok naik. Terutama plastik yang harganya naik drastis hingga 80% di Indonesia. Salah satu penyebab melonjaknya harga plastik adalah konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok energi global. Ini karena Indonesia ketergantungan impor bahan baku. Industri petrokimia Indonesia masih sangat bergantung (sekitar 60-70%) pada pasokan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan timur tengah.Dari sisi domestik kenaikan biaya produksi bahan baku plastik naik hingga 30-50%.Ini memaksa produsen di Indonesia menaikkan harga jual produk. Termasuk kemasan makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Pedagang kecil dan UMKM tertekan karena biaya kemasan plastik meningkat drastis, menggerus pendapatan mereka. Kenaikan ini berpotensi memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat secara domestik. Pemerintah sendiri sedang menyiapkan strategi untuk menghadapi dampak kenaikan harga plastik bagi UMKM. Menghadapi situasi tersebut, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang.Untuk jangka pendek, pemerintah membuka alternatif pasokan nafta dari kawasan yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika. Proses administrasi sedang disiapkan agar distribusi bahan baku dapat segera berjalan. Dari sisi lain, pemerintah juga mendorong transformasi menuju penggunaan bahan baku alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya domestik. Sejumlah bahan seperti bambu, rumput laut, dan singkong dinilai memiliki potensi besar diolah menjadi bioplastik sebagai alternatif kemasan yang menggantikan nafta.Kementerian UMKM terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah untuk merumuskan langkah strategis yang berkelanjutan dalam menjaga stabilitas rantai pasok bahan baku plastik nasional.Pemerintah juga sedang mengkaji berbagai kebijakan pendukung. Antara lain subsidi penggunaan bioplastik. Penguatan rumah kemasan bersama. Penerapan prinsip pengurangan penggunaan plastik. Serta pelatihan dan pendampingan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk berperan aktif dengan mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang sebagai bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Plastic Up! Sidoarjo SMEs, Switch Now!
Harga plastik naik, Disperindag imbau UMKM Sidoarjo beralih ke kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis demi menjaga keberlanjutan usaha. Tangerang, Camelosatu – Lonjakan harga plastik yang masih terjadi hingga April 2026 mulai menekan pelaku usaha, terutama pedagang kecil dan UMKM. Menyikapi kondisi ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sidoarjo mengimbau pelaku usaha untuk beralih ke kemasan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Plt Kepala Disperindag Sidoarjo, Happy Setianingtyas melalui Kabid Perdagangan K. Arya Wijojok, menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik dipengaruhi faktor global, khususnya ketergantungan bahan baku impor “Semua berasal dari pusat, termasuk bahan baku, regulasi, hingga intervensinya,” ujar Arya kepada Radar Sidoarjo, Rabu (29/4). Ia menambahkan, bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak bumi membuat harganya sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah. “Dampaknya dari situ. Bahan bakunya dari nafta, turunan minyak bumi, sehingga konflik global ikut memengaruhi harga,” jelasnya. Menurut Arya, pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengendalikan harga plastik. Meski begitu, Disperindag berupaya membantu pelaku usaha dengan memperpendek rantai distribusi. “Upaya kami adalah mendekatkan distributor dengan pelaku usaha agar mata rantai distribusi bisa dipangkas,” katanya. Selain itu, pelaku usaha juga didorong untuk mulai beradaptasi dengan beralih ke kemasan non-plastik, seperti kertas atau kaca. “Sarannya, plastik bisa diganti dengan bahan kertas atau kaca. Misalnya botol plastik diganti botol kaca, atau minuman disajikan menggunakan gelas yang bisa dicuci ulang,” ujarnya. Disperindag juga mendorong pelaku UMKM untuk melakukan efisiensi penggunaan plastik, seperti menyesuaikan ukuran kemasan, mengurangi bahan berlebih, hingga menerapkan sistem penggunaan ulang (reuse) dan isi ulang (refill) sebagai solusi jangka panjang. Meski harga meningkat, Arya memastikan kondisi pasar di Sidoarjo masih relatif stabil dan belum ditemukan praktik penimbunan. “Tidak ada penimbunan. Pengecer masih banyak dan kondisi pasar tidak terlalu bergejolak,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan bahwa stok bahan baku plastik secara nasional diperkirakan masih aman dalam waktu dekat. “Informasi dari pusat, bahan baku masih bertahan sekitar dua bulan,” tambahnya. Disperindag berharap pelaku usaha tetap kreatif dan adaptif dalam menghadapi kenaikan harga ini, tanpa harus langsung membebani konsumen dengan kenaikan harga jual. “Tidak harus langsung menaikkan harga, bisa dilakukan efisiensi di sisi lain,” pungkasnya
Market Crisis Support Local Now!
Harga plastik & tepung naik tajam! Pedagang pasar mengeluh biaya modal membengkak & margin menipis. Kondisi ini makin sulitkan pedagang kecil bertahan. Tangerang, Camelosatu – Harga plastik di sejumlah pasar tradisional masih mengalami kenaikan pasca isu kelangkaan yang sempat terjadi sebelumnya. Hingga kini, harga belum menunjukkan tanda-tanda akan kembali normal. Seorang pedagang kelontong di pasar Al-Mahirah, Banda Aceh, Muslem, mengatakan kenaikan harga plastik terjadi cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. “Plastik naiknya sangat signifikan, capai 5 ribu, dari harga 15 jadi 20 ribu, tapi plastik kecil naik 2, dari 8 ribu jadi 10 ribu,” ujarnya, Jumat (1/5/2026). Tidak hanya plastik, kenaikan harga juga terjadi pada beberapa jenis tepung. Salah satunya tepung bermerek Segitiga Biru yang mengalami kenaikan harga per kilogram. “Tepung yang lain masih murah, tapi tepung Segitiga Biru naik 2 ribu dari harga 10 ribu jadi 12 per kilo,” tambahnya. Kenaikan harga plastik disebut turut memengaruhi biaya operasional pedagang, terutama dalam pengemasan barang dagangan. Sementara itu, kenaikan harga tepung berdampak pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan tersebut. Para pedagang berharap harga kebutuhan ini dapat segera stabil agar aktivitas jual beli kembali normal dan tidak membebani baik pedagang maupun konsumen.
Plastic Prices Up Support Jember’s SMEs Now
Harga plastik naik, UMKM Jember putar otak! Lewat inovasi produk & efisiensi, produksi tetap jalan demi jaga pasar. Semangat kreatifitas pengusaha lokal Jember. Tangerang, Camelosatu – Lonjakan harga bahan baku plastik hingga lebih dari 50 persen mulai memberi tekanan pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Jember. Kenaikan biaya produksi ini mendorong pelaku usaha memutar strategi agar tetap bertahan tanpa kehilangan pasar. Dalam dialog Jember, Senin 27 April 2026, pelaku UMKM bersama akademisi membahas berbagai langkah adaptif menghadapi kenaikan harga kemasan plastik yang berdampak langsung terhadap ongkos produksi dan harga jual produk. Pemilik Paktara Craft, Lidiyanti Astika Ningrum, mengatakan kenaikan harga bahan baku memaksanya menyesuaikan harga jual produk tas anyaman sekitar Rp1.000 per unit. Namun, ia memilih tidak memangkas margin yang berpengaruh terhadap kesejahteraan perajin. “Kami memilih beradaptasi dengan menaikkan harga secara wajar, tapi kualitas produk dan keberlangsungan perajin tetap harus dijaga,” ujarnya. Sementara pemilik usaha minuman rempah daun kumis kucing, Dewi, memilih strategi berbeda. Alih-alih menaikkan harga jual, ia mengurangi volume produk dari 330 mililiter menjadi 250 mililiter agar tetap terjangkau bagi konsumen. Strategi ini, menurutnya, menjadi solusi menjaga loyalitas pelanggan di tengah tekanan biaya produksi. Akademisi STIPER Jember, Rival Andika Pratama, menjelaskan kenaikan harga plastik merupakan tantangan serius karena termasuk komponen biaya variabel yang langsung memengaruhi harga pokok produksi. Ia menyebut setidaknya ada tiga opsi yang bisa ditempuh pelaku usaha, yakni menyesuaikan harga, mengurangi margin keuntungan, atau mencari bahan substitusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Dalam situasi seperti ini, inovasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan agar UMKM tetap kompetitif,” katanya. Sejumlah inovasi mulai diterapkan. Paktara Craft melakukan redesain produk agar penggunaan bahan lebih efisien, sementara alternatif kemasan seperti bambu dan besek mulai dilirik sebagai pengganti plastik. Di sisi lain, sistem isi ulang (refill) juga mulai diperkenalkan kepada konsumen. Dewi mengaku mendorong pelanggan membawa wadah minum sendiri saat membeli produknya, dan respons pasar cukup positif. Selain inovasi usaha, peran perguruan tinggi juga dinilai penting dalam mendampingi UMKM. Rival menilai program pengabdian masyarakat dan KKN dapat diarahkan untuk membantu efisiensi kemasan, literasi digital, hingga riset terapan yang relevan bagi pelaku usaha. Meski menghadapi tekanan biaya, para pelaku UMKM tetap optimistis. Mereka menilai pengalaman menghadapi krisis, termasuk masa pandemi, menjadi modal untuk bertahan menghadapi tantangan baru. “Apapun tantangannya, UMKM harus terus bergerak dan berproduksi. Kuncinya berani berinovasi,” ujar Dewi. Dialog tersebut menegaskan kenaikan harga bahan baku tidak semata menjadi ancaman, tetapi juga momentum bagi UMKM untuk bertransformasi menuju model usaha yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Plastic Prices Climb Support New Subsidies
Harga plastik naik, Kemendag bahas skema subsidi untuk jaga stabilitas harga & bantu UMKM. Langkah ini diharapkan tekan biaya produksi di tengah lonjakan pasar Tangerang, Camelosatu – Kementerian Perdagangan membahas soal skema rencana subsidi untuk industri plastik karena kondisi geopolitik global yang menyebabkan harga bahan baku naik. Harga plastik di pasaran lokal melonjak naik sekitar 30 sampai 70 persen sejak beberapa pekan lalu dikarenakan penyesuaian harga minyak global yang menanjak akibat perang di kawasan negara Timur Tengah. Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, pemerintah belum punya solusi konkret terkait masalah ini. Pihaknya baru membahas rencana subsidi untuk industri plastik beberapa waktu lalu. “Terkait harga, pemerintah akan terus berupaya mencarikan solusi terbaik. Pada prinsipnya, harga plastik sangat bergantung pada bahan baku. Beberapa waktu lalu, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian tengah membahas kemungkinan pemberian skema subsidi untuk industri plastik,” kata Roro di Surabaya, Selasa (28/4/2026). Rencana subsidi untuk industri plastik dinilai akan membantu penurunan harga di pasaran dalam jangka pendek. Sementara untuk solusi jangka panjang, pemerintah akan mencari alternatif bahan baku lain selain minyak bumi. “Harapannya, kebijakan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap harga secara keseluruhan. Untuk jangka panjang, pemerintah juga berupaya mencari alternatif pasokan bahan baku, seperti nafta, dari sumber lain yang tidak terdampak kondisi geopolitik saat ini,” terangnya. Dorong mahasiswa tembuskan UMKM ke pasar global Di tengah-tengah ketidakpastian ekonomi global, Kemendag meluncurkan program Campuspreneur bekerja sama dengan Perguruan Tinggi Indonesia serta Apindo. Di hadapan mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya, Roro menyebut sektor UMKM memiliki kontribusi besar untuk PDB nasional sekitar 60 persen. “Kami juga mengapresiasi Universitas Airlangga yang telah berinovasi, bahkan memiliki inkubator bisnis UMKM. Hal ini membuka peluang kerja sama yang luas dengan Kementerian Perdagangan,” ujarnya. Lewat Campuspreneur, Roro ingin perguruan tinggi di Indonesia memberikan pendidikan kewirausahaan dan membuka akses bagi pelaku usaha ke pasar global. “Untuk pasar dalam negeri, kami dapat membantu menghubungkan pelaku usaha dengan ritel modern, misalnya. Sementara untuk pasar luar negeri, bagi produk yang ingin diekspor, tersedia fasilitas melalui Atase Perdagangan maupun Indonesia Trade Promotion Center untuk membantu promosi ke mancanegara,” ungkapnya. Ia menyebut sinergi antara pemerintah, asosiasi, dan perguruan tinggi akan membentuk kolaborasi yang diharapkan dapat terus berlanjut demi meningkatkan kualitas SDM Indonesia. “Saya juga melihat antusiasme luar biasa dari para mahasiswa di sini. Mereka berani menyampaikan pendapat, dan ada pula pengusaha sukses yang tadi disebut sebagai “Crazy Rich Surabaya” yang diharapkan bisa menjadi motivator dan mentor bagi generasi muda lainnya di Jawa Timur,” pungkasnya.
Plastic Prices Double Grab Gov Stimulus Now
Harga Plastik Naik 100%! Pemerintah siapkan stimulus bagi industri guna jaga stabilitas ekonomi & produksi. Simak dukungan kebijakannya di sini Tangerang, Camelosatu – Pemerintah akan segera membahas rencana pemberian stimulus bagi industri yang terdampak kenaikan harga plastik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembahasan tersebut akan dilakukan dalam rapat bersama tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Ekonomi Nasional yang dijadwalkan pada Selasa (28/4/2026) di kantor Kemenko Perekonomian bersama dengan para pelaku usaha. Diketahui, harga plastik di Indonesia per April 2026 mengalami kenaikan signifikan, bahkan melonjak hingga 80%—100% akibat krisis global dan kenaikan biaya bahan baku impor. Biji plastik PP menembus angka Rp 66.900—Rp 102.900/kg, sementara plastik HD naik hingga Rp 50.000/kg, berdampak pada lonjakan biaya operasional industri, terutama UMKM. “Besok kita akan bahas rapat dengan tim satgas di sini. Satgas percepatan ekonomi nasional termasuk debottlenecking,” ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026). Airlangga menyebut, rapat tersebut akan fokus pada upaya mencari solusi bagi pelaku usaha yang terdampak lonjakan harga bahan baku plastik. Namun demikian, ia belum merinci bentuk stimulus yang akan diberikan pemerintah. “Tunggu besok akan dibahas,” katanya. Kenaikan harga plastik belakangan menjadi perhatian karena berpotensi menekan biaya produksi sejumlah sektor industri, terutama yang bergantung pada bahan baku tersebut. Pemerintah pun tengah mengkaji langkah strategis agar dampaknya terhadap dunia usaha dan perekonomian dapat diminimalkan. Kenaikan harga plastik memengaruhi bisnis makanan ringan mengingat penggunaan kemasan yang mayoritas masih mengandalkan material plastik.
40% plastic surge Watch snacks evolve.
Harga plastik naik 40%! Produsen snack kini dilema: pilih kurangi porsi atau ganti kemasan ramah lingkungan? Strategi baru demi tekan biaya produksi. Tangerang, Camelosatu – Kenaikan harga plastik memengaruhi bisnis makanan ringan mengingat penggunaan kemasan yang mayoritas masih mengandalkan material plastik. Dampak ini salah satunya dirasakan oleh PT Jaya Swarasa Agung Tbk (TAYS), produsen makanan ringan (snack) Tays Bakers. Corporate Secretary TAYS Dinna Afrianti mengatakan bahwa sejak konflik Timur Tengah yang menutup Selat Hormuz, reaksi telah muncul dari vendor dan pemasok material perusahaan. Pasalnya, ia mengungkap kenaikan harga plastik rata-rata sudah di atas 40% dari harga normal. “Hal ini kami anggap tidak wajar karena komponen packaging merupakan hal yang vital dari produk final dan berdampak langsung pada cost of goods sold (COGS),” ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026). Dari sisi pasokan, Dinna bilang, biasanya perusahaan diberikan alokasi stok kemasan dengan harga lama dan kuota tertentu. Namun, tahun ini kuota tersebut nihil lantaran tak ada stok yang siap kirim dari pasar bahan baku. Dus, produsen untuk produk wafer roll, cokelat, kraker, snack jagung, hingga biskuit ini melakukan sejumlah strategi penyesuaian. Di kanal tradisional, TAYS memilih untuk tak mengerek harga, tetapi menyesuaikan pada gramasi dan kemasan agar harga produk masih terjangkau bagi konsumen. “Sementara di kanal modern, kami melakukan diversifikasi kemasan, harga, dan daya tarik (excitement), sehingga mampu memberi alasan kepada konsumen untuk membeli,” jelas Dinna. Ke depan, ia menyampaikan, TAYS akan terus mengeksplorasi untuk menentukan strategi final dalam merespons perubahan pasar. Ini mengingat setiap keputusan strategis perusahaan akan berdampak langsung pada investasi. Setali tiga uang, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) turut merasakan peningkatan harga material kemasan plastik makanan ringan pada jenis tertentu, meskipun tak merinci besaran kenaikan. Seperti diketahui, MYOR menawarkan produk biskuit, kembang gula, wafer, cokelat, kopi, hingga makanan kesehatan dengan sejumlah merek. Manajemen MYOR menjelaskan, hingga saat ini perusahaan belum berencana menyesuaikan harga jual. Sebab, melonjaknya harga kemasan dikompensasi oleh menurunnya harga komoditas utama seperti kopi dan kakao. “Namun, kami terus memantau perkembangan harga bahan baku dan bahan penunjang lainnya, termasuk potensi kenaikan akibat fluktuasi harga minyak dunia,” jelas manajemen MYOR, Rabu (22/4/2026). Selain kemasan, MYOR juga tengah mengawasi pergerakan harga bahan baku seperti minyak sawit (palm oil) dan minyak kelapa (coconut oil) yang tengah merangkak naik. Di lain sisi, MYOR juga melirik peluang dari pengisian ulang stok setelah pembatasan operasional truk saat periode Lebaran. “Hal ini diperkirakan akan meningkatkan penjualan di kuartal II-2026 ini,” imbuh manajemen MYOR.
Plastic Costs More, Bring Your Own for Sure
Harga plastik naik! Yuk, mulai bawa tumbler sendiri saat bepergian. Lebih hemat, ramah lingkungan, dan gaya hidup jadi lebih keren. Mari kurangi sampah plastik! Tangerang, Camelosatu – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada kebiasaan konsumsi masyarakat, khususnya dalam penggunaan kemasan sekali pakai. Banyak masyarakat kini memilih membawa tumbler sendiri sebagai solusi yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Lonjakan harga bahan baku plastik bahkan mencapai sekitar 40 persen, sehingga memicu kenaikan harga minuman kemasan di pasaran. Kondisi ini membuat konsumen mulai mencari alternatif yang lebih ekonomis, salah satunya dengan membawa wadah minum pribadi. Dikutip dari kms.kemkes.go.id pada Minggu, 26 April 2026, tidak hanya dari sisi ekonomi, penggunaan tumbler juga dinilai lebih baik bagi kesehatan. Penggunaan tumbler karena dapat mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai yang berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu, penggunaan tumbler membantu membentuk kebiasaan minum air putih yang cukup setiap hari. Kebiasaan ini penting untuk menjaga hidrasi tubuh dan mencegah dehidrasi, terutama pada aktivitas padat. Sementara itu dikutip dari keperawatan.almaata.ac.id, tumbler yang digunakan secara pribadi juga dinilai lebih higienis dibanding berbagi atau menggunakan kemasan sekali pakai. Namun, tumbler tetap dibersihkan secara rutin untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Selain manfaat kesehatan, penggunaan tumbler juga berkontribusi dalam mengurangi sampah plastik yang sulit terurai. Langkah sederhana ini dinilai penting dalam menjaga lingkungan sekaligus mendukung gaya hidup berkelanjutan. Dengan berbagai keuntungan tersebut, tren membawa tumbler kini semakin meluas di tengah masyarakat. Kenaikan harga plastik justru menjadi momentum perubahan kebiasaan menuju pola hidup yang lebih sehat, hemat, dan ramah lingkungan.