Anggota DPR mendesak Pemerintah segera atasi lonjakan harga plastik yang bebani UMKM. Kebijakan strategis diperlukan guna jaga stabilitas ekonomi pasar. Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo meminta pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengatasi lonjakan harga plastik, yang semakin menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Saat harga plastik di tingkat pasar naik hingga dua kali lipat, yang terdampak bukan hanya pedagang bahan kemasan, melainkan ribuan pelaku usaha mikro, industri rumahan, hingga sektor ekonomi kreatif yang menjadikan kemasan sebagai bagian tidak terpisahkan dari nilai jual produk mereka,” kata Yoyok dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026). Politikus Partai Nasdem itu menegaskan, pemerintah tidak boleh diam dan menganggap kenaikan harga plastik sebagai persoalan biasa karena dampaknya akan meluas ke berbagai sektor. “Pemerintah jangan hanya diam saja, karena ini tanggung jawab Negara. Di sini, Pemerintah dituntut untuk menunjukkan kepiawaian dalam meredakan beratnya kondisi ekonomi akibat konflik global,” jelas Yoyok. Menurut dia, kebijakan yang ada saat ini juga dinilai belum cukup untuk meredam tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, Yoyok mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat. “Bagi saya, Pemerintah tidak cukup hanya dengan menekan harga BBM agar tidak naik. Pemerintah harus cari solusi efektif menghadapi tekanan ekonomi saat ini yang dihadapi rakyat,” ucap Yoyok. “Pemerintah harus gerak cepat menyiasati kenaikan harga. Beban ekonomi ganda masyarakat harus mendapat solusi dari Pemerintah, di sinilah ujiannya,” imbuh dia. Yoyok mengingatkan, hingga saat ini plastik masih menjadi bagian penting yang sulit dikesampingkan bagi pelaku UMKM. Untuk itu, pelaku usaha akan dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga produk atau menanggung kenaikan biaya produksi, jika tak ada intervensi dari pemerintah. “Jangan sampai sektor UMKM yang menjadi roda penggerak ekonomi Negara harus terus tergerus, sementara Pemerintah justru lebih sibuk memajaki rakyatnya,” kata Yoyok. Harga plastik naik Sebagai informasi, harga plastik di Indonesia saat ini mengalami kenaikan signifikan, berkisar 30 persen hingga 100 persen di sejumlah daerah. Harga eceran di pasar tercatat berada pada kisaran Rp 28.000 hingga Rp 49.000 per kilogram untuk jenis tertentu. Kenaikan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku seperti nafta akibat konflik di Timur Tengah. Indonesia yang masih mengimpor sekitar 60 persen bahan baku plastik, terutama dari Timur Tengah, China, dan Korea Selatan, terdampak langsung oleh lonjakan harga minyak dunia serta tingginya biaya logistik.
Gubernur DKI Sebut Harga Plastik Naik
Gubernur DKI Harga plastik naik jadi momentum inovasi! Saatnya beralih ke wadah ramah lingkungan & kreatif. Tantangan ini peluang kurangi limbah Jakarta: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyebut naiknya harga plastik harus dapat menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah untuk berinovasi mencari pengganti plastik sebagai wadah. Sebab, penggunaan plastik juga perlahan harus mulai dikurangi. “Kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi. Harus ada substitusinya,” kata Pramono di Jakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 12 April 2026. Pramono mengatakan penetapan harga dan upaya penanganan kenaikan harga plastik bukan menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, melainkan pemerintah Pusat. Namun, menurut dia, selain berinovasi, naiknya harga plastik dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk kembali menggunakan cara membungkus secara tradisional. “Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka, untuk itu, ya, kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional pakai bungkus, daun pisang, dan sebagainya,” kata dia. Sebelumnya, harga plastik di Indonesia dilaporkan melonjak drastis, naik sekitar 30-70 persen, bahkan ada yang mencapai 100 persen pada April 2026, terutama didorong oleh gangguan pasokan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Harga plastik kresek naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per bungkus (pak). Sementara itu, jenis lain meningkat dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per bungkus. Pemerintah pusat menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk merespons kenaikan harga bahan baku plastik dan berbagai komoditas lain yang terdampak dinamika geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah saat ini fokus memantau intensif terhadap pergerakan harga komoditas dunia, sekaligus menyiapkan langkah mitigasi agar dampaknya terhadap industri dan masyarakat dapat ditekan. Menurut dia, pemerintah menyadari gejolak global, termasuk kenaikan harga energi, berpengaruh langsung terhadap sektor industri dalam negeri. Salah satunya industri plastik yang bahan bakunya masih impor.
Harga Plastik Naik, Ini Penyebab Utamanya
Harga plastik naik! Ini penyebab utamanya: lonjakan harga bahan baku global dan biaya logistik yang mahal Industri terhimpit Belakangan ini, banyak pelaku usaha hingga masyarakat mulai merasakan kenaikan harga plastik. Mulai dari kantong belanja hingga bahan kemasan, harganya perlahan merangkak naik. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya yang menyebabkan harga plastik ikut melonjak? Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga plastik adalah situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang terjadi di wilayah tersebut berdampak pada terganggunya distribusi energi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan minyak dunia. Ketidakstabilan ini menyebabkan harga minyak meningkat, yang kemudian berimbas pada naiknya biaya bahan baku petrokimia seperti nafta sebagai komponen utama dalam produksi plastik. Kenaikan harga plastik juga dipengaruhi oleh gangguan rantai pasok global. Ketika distribusi bahan baku terganggu, waktu pengiriman menjadi lebih lama dan biaya logistik meningkat. Bahkan, perubahan rute pengiriman akibat konflik dapat membuat ongkos transportasi semakin mahal, yang akhirnya dibebankan pada harga produk akhir. Berdasarkan laporan dari Greenpeace Indonesia, ketergantungan industri plastik terhadap bahan bakar fosil menjadi salah satu akar masalah utama. Selama bahan baku plastik masih bergantung pada minyak dan gas, maka harga plastik akan terus rentan terhadap fluktuasi energi global dan konflik internasional. Hal ini juga disampaikan oleh Budi Santoso selaku Menteri Perdagangan, dikutip dari Investor.id. Ia menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi gangguan distribusi maupun kenaikan harga di pasar global. Industri plastik di Indonesia memiliki peran yang cukup penting dalam berbagai sektor. Mulai dari kebutuhan pangan, kemasan logistik, hingga industri manufaktur, semuanya bergantung pada ketersediaan bahan plastik. Namun, struktur industri ini masih menghadapi tantangan besar karena tingginya ketergantungan pada bahan baku impor, terutama nafta sebagai komponen utama produksi. Kenaikan harga plastik menjadi pengingat bahwa ketergantungan terhadap bahan berbasis fosil memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada industri tetapi juga kehidupan sehari-hari. Di tengah kondisi ini, mulailah beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan atau material biodegradable bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar. Selain membantu mengurangi penggunaan plastik, pilihan ini juga mendukung upaya menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku yang harganya tidak stabil.
Harga Plastik Naik, Pedagang Pasar Tertekan
Harga plastik naik, pedagang pasar di Cirebon tertekan! Modal membengkak buat omzet harian anjlok. Pedagang bingung tentukan harga jual Kenaikan harga kantong plastik di Kota Cirebon, Jawa Barat mulai menekan aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Lonjakan biaya kemasan tidak hanya meningkatkan beban operasional pedagang, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan dan omzet harian. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon mencatat, perubahan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir memaksa pelaku usaha kecil melakukan berbagai penyesuaian. Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, Iing Daiman, mengatakan kenaikan harga plastik telah mengubah pola transaksi di pasar. Pedagang, kata dia, mulai mengurangi jumlah kantong yang digunakan dalam setiap pembelian. “Sekarang banyak pedagang yang menggabungkan beberapa jenis belanjaan dalam satu kantong, yang sebelumnya dipisah. Ini bentuk penyesuaian agar biaya tidak terus membengkak,” ujar Iing, Kamis (9/4/2026). Selain itu, penggunaan plastik berlapis yang sebelumnya lazim untuk membungkus komoditas tertentu mulai ditinggalkan. Pedagang kini cenderung menggunakan satu lapis plastik untuk menghemat biaya. Menurut Iing, langkah ini menjadi pilihan realistis di tengah kenaikan harga bahan kemasan yang tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli konsumen. Ia menilai kondisi ini juga membawa dampak tidak langsung terhadap perilaku lingkungan di pasar tradisional. Kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik, kata dia, mulai tumbuh meski belum merata di semua pedagang. “Ini bisa menjadi momentum untuk mengurangi sampah plastik. Pedagang mulai sadar, walaupun faktor utamanya tetap karena biaya,” katanya. Di sisi lain, alternatif kemasan tradisional kembali digunakan. Sejumlah pedagang mulai memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus, terutama untuk komoditas basah. Selain itu, sebagian konsumen juga mulai membawa kantong belanja sendiri saat bertransaksi. Perubahan perilaku tersebut dinilai sebagai respons adaptif antara pedagang dan pembeli di tengah tekanan harga. Kebiasaan membawa tas belanja sendiri yang sebelumnya belum umum, kini perlahan mulai terlihat di sejumlah pasar. Namun demikian, dampak ekonomi tetap dirasakan pedagang. Aeni (60), pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku kenaikan harga plastik cukup memberatkan usahanya. Ia menyebut harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp8.000 per kemasan kini meningkat menjadi Rp12.000 sejak awal April 2026. Kenaikan tersebut sempat mendorongnya menaikkan harga jual barang dagangan. Namun, langkah itu tidak bertahan lama karena konsumen mengurangi pembelian. “Pembeli jadi berkurang. Sekarang untuk dapat Rp100 ribu saja lebih sulit, padahal dulu bisa sampai Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per hari,” ujarnya.
Harga Plastik Naik Gila-gilaan
Harga plastik naik gila-gilaan! Pembeli syok, biasanya Rp 20.000 kini tembus Rp 40.000. Kenaikan 100% ini sangat memberatkan warga dan pedagang kecil di pasar. Para pedagang di pasar tradisional mulai membatasi penggunaan kantong plastik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi modal tetap usaha seiring kenaikan harga plastik imbas perang di Timur Tengah. Kondisi ini tentu sangat berimbas ke para pembeli produk plastik di pasar, yang mana mayoritas adalah pedagang makanan atau pemilik kantin. Sebab kenaikan harga ini langsung membuat modal mereka untuk berdagang meningkat pesat. Salah satunya ada Bagas, penjual bakmi Jawa yang kerap membeli wadah makanan plastik atau thinwall untuk pembelian yang dibawa pulang. Ia mengatakan kenaikan harga ini sudah mulai dirasakan sekitar dua minggu lalu, namun saat itu kenaikan harga belum separah ini. “Sekarang parah sih, biasa beli Rp 20.000 – 25.000, sekarang Rp 40.000,” kata Bagas saat membeli thinwall di Pasar Gondangdia, Kamis (9/4/2026). Pada akhirnya ia mengaku di tempatnya berjualan, khusus untuk pembelian dibawa pulang dikenakan tambahan biaya sebesar Rp 2.000 per bungkus. Sementara untuk makan ditempat, harga masih sama dan tak mengalami perubahan. “Ya paling kita tambah Rp 2.000 buat yang dibungkus, kalau makan di tempat masih sama,” ujarnya singkat. Hal serupa juga disampaikan oleh Naya, pemilik warung nasi di dekat Stasiun Gondangdia, yang datang ke pasar untuk membeli wadah styrofoam yang ternyata juga ikut mengalami kenaikan. “Ini (styrofoam) naik juga lah. Ini yang isi 100 biasanya Rp 30.000, ini Rp 40.000,” ucap Naya. Selain menggunakan wadah styrofoam, warung makannya juga kerap menggunakan thinwall untuk bungkus makan atau pesanan dalam jumlah banyak. Sebab ia hanya menggunakan wadah styrofoam untuk pesanan yang akan dibagi-bagikan di jalan. “Kalau styrofoam buat besok, buat berbagi doang. Kalau dibungkus biasa tetap pakai thinwall. Aku thinwall biasanya kan beli online. Biasanya dulu Rp 37.000, sekarang jadi Rp 54.000 – 55.000,” terangnya. Kondisi ini tentu membuat Naya menjadi bingung, sebab kenaikan harga modal beli plastik ini tak bisa diiringi dengan kenaikan harga jual di warungnya. Takut pelanggan pindah ke warung lain karena kenaikan harga. “Bingung mau naikin harga. Karena customer itu kan mereka cari perbandingan harga gitu loh. Tapi itu plastik naik Rp 6.000 sekarang. Kantong plastik (kresek) sedang yang putih kayak gini tuh Rp 20.000. Dulu Rp 14.000, naik Rp6.000. Gelas buat minum kayak es teh manis gitu sekarang jadi Rp 22.000, dulu kita beli Rp 18.000,” tutur Naya. “Serba salah kitanya, mau dinaikin dilema, nggak dinaikin dilema. Ya kalau gini terus bertahap lah naiknya, pelan-pelan,” ucapnya lagi sembari memikirkan kemungkinan adanya kenaikan harga jual ke depan. ada juga pelanggan yang sengaja membeli plastik kresek dengan harga lebih murah saat mengetahui harga plastik kresek putih sedang yang biasa ia beli sudah naik cukup tinggi.
Naik Harga Plastik, Naik Biaya Produksi Air
Harga plastik naik, tekan biaya produksi air kemasan. Produsen dilema naikkan harga atau pangkas margin. Beban operasional berat, ancam stabilitas industri! Kenaikan harga plastik kembali menekan biaya produksi industri air minum dalam kemasan. Pegawai PT Sembilan Pilar Utama, Muhammad Yogi Yusuf, mengatakan kenaikan tersebut membuat harga air kemasan harus disesuaikan. Harga per dus naik sebesar Rp3.500 agar operasional perusahaan tetap berjalan.Ia menyebutkan harga bahan baku plastik melonjak hingga 70 persen, sehingga berdampak langsung pada peningkatan biaya pembuatan setiap produk. Menurut Yogi, reaksi mitra usaha dan pengecer juga menunjukkan kekecewaan. Banyak di antara mereka mengurangi jumlah pembelian dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, aktivitas produksi di gudang tetap berlangsung setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Kenaikan harga bahan baku plastik sudah mencapai 70 persen dan ini berdampak langsung pada biaya produksi. Karena harga plastik meningkat, harga air kemasan terpaksa ikut naik sebesar Rp3.500 per dus agar operasional perusahaan tetap berjalan,” ujarnya. Yogi menambahkan bahwa perusahaan khawatir apabila harga plastik terus naik. Biaya pengemasan dan ketersediaan bahan baku dikhawatirkan menjadi kendala karena beberapa pemasok mulai membatasi jumlah pengiriman plastik. Perubahan kondisi harga bahan baku menuntut industri air minum dalam kemasan untuk lebih adaptif dalam menjaga kelangsungan produksi. Meski tekanan biaya semakin meningkat, perusahaan berharap suplai air kemasan tetap stabil sehingga kepercayaan mitra usaha dan konsumen dapat terjaga.
BBM Belum Naik tapi Harga Plastik mahal
BBM belum naik, tapi harga plastik sudah melonjak 300%. Pedagang menjerit karena biaya operasional membengkak drastis. Beban modal makin berat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah memantau harga plastik melonjak hingga 300 persen di tingkat pemasok lokal. Kenaikan tersebut terjadi karena sumber bahan baku plastik merupakan bahan impor yang terdampak perang di Timur Tengah. “Plastik itu bahan bakunya impor sehingga di tingat suplier lokal naik sampai 300 persen,” ucap Kepala Disperindag Jateng July Emmylia, Selasa (7/4/2026). Meskipun ada kenaikan harga bahan baku mencapai ratusan persen, Emmylia mengklaim harga plastik di pasaran belum mengalami gejolak. Hal ini terjadi karena para suplier masih bisa menekan harga dengan melakukan penghematan bahan baku dari stok lama. “Kenaikan memang ada, tetapi secara umum belum ada yang secara resmi mengadukan kenaikan harga plastik ke kami,” ucapnya. Ia menyebut, Kenaikan plastik ini berpengaruh kepada para pelaku industri dan pedagang yang menyediakan plastik sebagai wadah belanja bagi konsumen. Ia sendiri tidak hafal jumlah produsen plastik yang berada di wilayah Jawa Tengah. “Kalau ke rumah tangga tidak terlalu berpengaruh ya,” bebernya. Lepas dari dampak itu, pihaknya kini masih menyusun transformasi bahan baku plastik industri ke bahan baku lokal yang lebih ramah lingkungan. Format green industri ini salah satunya dengan menggunakan bioplastik berbahan tepung pati singkong. Namun, bahan alami ini ternyata lebih mahal dibandingkan dengan plastik impor. “Kami sudah ada hitungannya, selepas disimulasi ternyata harga bioplastik HPP (Harga Pokok Penjualan) naik sampai 20 persen, harga HPP naik pasti pengaruhi harga jual,” terangnya. Selain itu, pihaknya kini masih menyusun rancangan imbauan kepada masyarakat agar mengurangi plastik sekali pakai dan melakukan penghematan penggunaan plastik. “Kalau dari Kemendag (Kementerian Perdagangan), belum ada instruksi khusus soal ini,” bebernya. Perusahaan Merugi Sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan, kenaikan harga biji plastik di level pengusaha di Jateng mencapai 100 persen. Kenaikan tersebut menyebabkan pengusaha merugi. Kenaikan tersebut tidak hanya berdampak ke pengusaha plastik melainkan perusahaan garmen karena menggunakan poliester yang merupakan berbahan dasar serat plastik. “Pabrik bahan plastik merugi luar biasa, teken kontrak suplai produk plastik harga normal tapi harga bahan baku justru melambung naik,” tambahnya.
Pedagang Mengeluh Harga Plastik Melonjak
Pedagang mengeluh Harga plastik melonjak 3 kali lipat, bikin modal membengkak dan untung menipis. Beban rakyat makin berat Harga plastik di pasaran mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai tiga kali lipat di sejumlah wilayah. Kenaikan harga terjadi sebagai dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak global naik signifkan. Jakarta Selatan pada Senin (6/4) menunjukkan adanya kenaikan harga pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan. Mustaroh, penjual es kelapa di kawasan tersebut mengaku kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis plastik yang ia gunakan untuk berjualan. “Semua merk naik semua,” kata Mustaroh saat ditemui di kedainya. Ia merinci, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sementara sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Bahkan, plastik kemasan merek tomat melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak. “Ini saya beli langsung di toko plastik, kalau eceran pasti lebih mahal lagi,” ujarnya. Meski biaya operasional meningkat, Mustaroh mengaku belum menaikkan harga jual es kelapa. “Nggak (menaikkan harga es kelapa). Jadi ini kita udah aduh-aduhan banget,” katanya. Keluhan serupa disampaikan Yusni, pemilik kios plastik di Pasar Lenteng Agung. Ia menyebut kenaikan harga sudah terjadi sejak bulan puasa. “Naik tiga kali lipat semua,” ujar Yusni Pedagang tersebut mengeluhkan selain harga yang melonjak, ketersediaan barang juga menjadi masalah. “Pembeli tetap ada, tapi ya gitu, barangnya yang nggak ada,” tambahnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengandalkan impor plastik dan produk turunannya. Sepanjang Februari 2026, nilai impor plastik mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,84 triliun. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor tersebut berasal dari sejumlah negara utama. “Impor plastik atau barang dari plastik di Februari 2026 mencapai US$873,2 juta,” ujar Ateng dalam konferensi pers Ia menambahkan, impor terbesar berasal dari China sebesar US$380,1 juta, disusul Thailand US$82,7 juta dan Korea Selatan US$66,7 juta. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui telah menerima keluhan dari para pedagang terkait kenaikan harga plastik. “Saya dengar bijih plastiknya naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM,” kata Zulkifli. Ia menyebut pemerintah akan membahas kenaikan harga tersebut dengan pihak terkait. “Ya nanti kita akan bahas secara khusus, kok tiba-tiba naiknya begitu tinggi. Kita akan undang beberapa pihak terkait,” ujar Zulhas sapaan akrabnya.
Dari plastik sampai kosmetik mulai naik
Dari plastik sampai kosmetik Harga barang di Indonesia mulai naik imbas konflik Timur Tengah Sebagian pedagang kecil di Indonesia terpaksa memangkas keuntungan karena kenaikan harga plastik yang pasokan bahan bakunya terganggu konflik di Timur Tengah. Mereka mengaku harus “mengalah” agar tidak membebani pengeluaran masyarakat. Harga bahan baku plastik, yaitu nafta senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir. Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50%. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam “mode bertahan”. Pemerintah sedang mengupayakan sumber pasokan bahan baku plastik di luar negara-negara Timur Tengah. Selain plastik, sejumlah harga barang lain seperti suplemen, obat, dan kosmetik juga naik akibat perang di Timur Tengah. Para ekonom memperingatkan Indonesia dapat diterjang badai PHK dan ancaman inflasi tinggi jika perang yang diawali serangan AS-Israel ke Iran ini berkepanjangan, tanpa diikuti kebijakan yang tepat. Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak ekonomi dari perang Timur Tengah. Paket kebijakan ini diklaim bisa menghemat anggaran ratusan triliun rupiah, meskipun efektivitasnya dipertanyakan. ‘Pedagang harus mengalah’ Sejumlah pedagang plastik di pasar tradisional di beberapa kota besar menyatakan tak bisa menahan harga lagi. Tapi mereka terpaksa mengambil keuntungan tipis demi menjaga pasar. Ada pula sejumlah pedagang kecil yang rutin menggunakan plastik yang tetap mempertahankan harga, walau pembeli semakin sepi. Harga plastik dan beberapa produk turunannya, seperti gelas dan sedotan di Padang, Sumatra Barat, naik hingga 50%. “Kenaikan harganya sejak lebaran lalu dan sampai saat ini harga barang-barang plastik ini harganya tidak turun lagi,” kata salah seorang pedagang minuman keliling di Kota Padang, Meliatrisinta, Kamis (02/04). Perempuan 29 tahun ini menuturkan, gelas plastik ukuran 16 oz (473 mililiter) biasanya dijual Rp24.000 per 50 gelas. Sekarang harganya naik jadi Rp29.000. Gelas plastik ukuran 400 mililiter juga naik dari Rp14.000 menjadi Rp21.000 ribu. Bukan hanya gelas plastik, harga bahan baku dagangan Meliatrisinta, seperti gula dan susu kental manis, juga naik. Melia hanya bisa menerima keadaan dan mengambil untung tipis. “Kalau isinya dikurangi tentu nanti langganan komplain. Apalagi menaikkan harga, pembeli saya biasanya hanya para siswa Sekolah Dasar (SD) yang uang jajannya terbatas,” katanya. Melia mempertahankan harga paling mahal Rp8.000 dan paling murah Rp5.000 per gelas. Tafrizal, 58 tahun, pedagang minuman keliling lainnya merasakan hal yang sama. Selain harga bahan baku naik, ia berkata jumlah pembeli turun hingga 50%. “Bahkan ada kemarin itu saya hanya membawa pulang uang Rp60.000. Itu saya sudah mulai berjualan dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB,” katanya. Selain bahan pokok dan plastik, harga obat-obatan yang dijual di apotek-apotek Kota Padang juga mengalami peningkatan sejak beberapa pekan terakhir. Pengelola apotek di Kota Padang, Debi Septia Nanda mengaku harga beberapa jenis suplemen dan obat naik hingga 15% sejak tiga pekan terakhir. Meski tidak seluruh jenis obat-obatan mengalami peningkatan harga, tapi itu menjadi pertanyaan bagi para pelanggan. “Biasanya mereka tanya kenapa harganya naik dan kami juga tidak bisa menjelaskan banyak, karena kenaikan harga itu memang sudah dari sananya,” kata perempuan 25 tahun ini. Di kesempatan lain, beberapa toko kosmetik juga mengaku produk yang mereka jual mengalami kenaikan meskipun “tidak terlalu signifikan”. “Kenaikan harganya itu hanya seperti Rp1.000 hingga Rp2.000 saja,” kata Reska Yuliana, seorang pedagang kosmetik berusia 29 tahun. “Kosmetik sudah menjadi kebutuhan, terlebih untuk perempuan. Jadi kalaupun harganya naik, mereka akan tetap membeli,” ucapnya. Penjual seblak di Jakarta Timur, Sismiati, hanya bisa geleng kepala karena kenaikan harga plastik dan Styrofoam. Musababnya, untuk mengemas makanan dengan citra rasa pedas dan aroma kencur yang kuat ini, ia membutuhkan tiga lapisan pembungkus: dua plastik kresek dan satu stirofoam. “Sebelum puasa itu harganya masih Rp20.000 (isi 100). Nah pas puasa kemarin naik jadi Rp25.000. Pas lebaran kemarin Rp35.000, kemarin naik lagi ada yang Rp40.000,” kata Sismiati. Sismiati berkata, dia harus “mengalah” mengambil keuntungan yang semakin tipis dengan menahan harga dagangannya. “Kasihan mereka nggak bisa beli. Jadi aku tetap enggak menaikkan harga,” ujar perempuan yang menjual seblak tiga tahun terakhir. “Pedagang harus mengalah, karena melihat masyarakat juga kebingungan. Mereka gaji enggak naik, tapi semua harga serba naik”. Keluhan yang sama disampaikan pedagang di Makassar, Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah Hastina, seorang pedagang kebutuhan berbahan plastik seperti gelas kopi, wadah makanan, hingga kantong plastik di Pasar Pabaeng-Baeng. Selama berjualan 10 tahun, baru kali ini Hastina mendapat kenaikan harga barang yang begitu mahal. “Dulu naik cuma Rp1.000 sampai Rp2.000. Sekarang Rp 5.000 atau di atasnya lagi. Seumpama harganya kantong plastik Rp3.000, naik Rp 5000. Jadi Rp 8000,” katanya. Kenaikan harga plastik kresek ini tergantung ukurang. Sementara barang-barang lain seperti gelas plastik juga mengalami kenaikan harga. “Saya biasa jual Rp 10.000. Kan modal Rp 8000, jadi untung Rp 2000. Itu dulu. Kalau sekarang modalnya Rp12.500, jadi kita mau jual berapa coba? Rp13.500, untung Rp1.000,” ujar Hastina. Mahalnya harga barang-barang tersebut juga berdampak pada pembeli di pasar, yang semakin berkurang. “Sebenarnya di pasar ini sudah lama berkurang pembeli. Sekarang tambah mahal apa-apa, lebih berkurang lagi,” kata Hastina. Ronny yang berjualan bahan plastik di Pasar Panakkukang, menyiasati menaikkan harga barang secara perlahan dengan stok lama. “Saya sesuaikan dengan stok yang ada,” katanya. Untuk menjaga pasar, penjual grosiran ini pun memilih untuk mengambil “untung tipis”. “Sekarang paling kita cuma bisa untung 10 persen saja dari harga jual karena harga berubah-ubah,” katanya. Pedagang kosmetik dan obat-obatan di Makassar, Irma, mengaku belum merasakan dampak kenaikan harga tapi beberapa obat sempat naik harganya. “Sebelum lebaran ada kenaikan beberapa biji, tapi yang lain masih sama harganya. Naik Rp3.000,” katanya. Kenaikan harga sejumlah obat juga mulai terjadi di tingkat apotek di Jayapura, Papua, sejak awal 2026. Meski berlangsung bertahap dan belum signifikan, perubahan ini mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Tenaga Apotek Furia Farma, Della Lestari, mengatakan tidak semua produk mengalami kenaikan. Namun, beberapa jenis obat terutama yang sering digunakan menunjukkan tren peningkatan harga dalam beberapa bulan terakhir. Obat bebas seperti vitamin menjadi salah satu yang paling terasa kenaikannya. Selain itu, obat bermerek dan kombinasi seperti obat flu dan batuk juga mengalami peningkatan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lain. Obat generik cenderung lebih stabil dan belum
Tren Tumbler dan Tas Ramah Lingkungan
Tren Tumbler dan tas ramah lingkungan membuat banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan terus meningkat. Salah satu bentuk nyata yang kini semakin terlihat adalah kebiasaan membawa tumbler dan tas belanja sendiri dalam aktivitas sehari-hari. Tren ini tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di berbagai tempat, mulai dari kafe hingga pusat perbelanjaan, masyarakat mulai terbiasa membawa tumbler untuk mengisi ulang minuman. Selain lebih hemat, langkah ini juga dinilai efektif dalam mengurangi sampah plastik dari botol minuman sekali pakai. Sementara itu, penggunaan tas kain atau totebag juga semakin populer sebagai pengganti kantong plastik. Fenomena ini didorong oleh meningkatnya kampanye lingkungan yang masif di media sosial. Banyak komunitas dan individu yang aktif mengedukasi publik tentang dampak negatif sampah plastik terhadap ekosistem, terutama di wilayah pesisir dan laut. Menurut berbagai sumber, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang. Dikutip dari United Nations Environment Programme, penggunaan barang pakai ulang seperti tumbler dan tas belanja dapat secara signifikan mengurangi jumlah sampah plastik global. Namun demikian, tantangan masih tetap ada. Tidak semua masyarakat memiliki akses atau kesadaran yang sama terhadap pentingnya gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, faktor kebiasaan dan kenyamanan juga menjadi hambatan dalam mengubah perilaku. Meski begitu, tren ini menunjukkan arah positif. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mulai peduli, diharapkan kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan tas belanja sendiri dapat menjadi norma baru dalam kehidupan sehari-hari.