Harga plastik naik, pedagang pasar di Cirebon tertekan! Modal membengkak buat omzet harian anjlok. Pedagang bingung tentukan harga jual Kenaikan harga kantong plastik di Kota Cirebon, Jawa Barat mulai menekan aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Lonjakan biaya kemasan tidak hanya meningkatkan beban operasional pedagang, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan margin keuntungan dan omzet harian. Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon mencatat, perubahan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir memaksa pelaku usaha kecil melakukan berbagai penyesuaian. Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, Iing Daiman, mengatakan kenaikan harga plastik telah mengubah pola transaksi di pasar. Pedagang, kata dia, mulai mengurangi jumlah kantong yang digunakan dalam setiap pembelian. “Sekarang banyak pedagang yang menggabungkan beberapa jenis belanjaan dalam satu kantong, yang sebelumnya dipisah. Ini bentuk penyesuaian agar biaya tidak terus membengkak,” ujar Iing, Kamis (9/4/2026). Selain itu, penggunaan plastik berlapis yang sebelumnya lazim untuk membungkus komoditas tertentu mulai ditinggalkan. Pedagang kini cenderung menggunakan satu lapis plastik untuk menghemat biaya. Menurut Iing, langkah ini menjadi pilihan realistis di tengah kenaikan harga bahan kemasan yang tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli konsumen. Ia menilai kondisi ini juga membawa dampak tidak langsung terhadap perilaku lingkungan di pasar tradisional. Kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik, kata dia, mulai tumbuh meski belum merata di semua pedagang. “Ini bisa menjadi momentum untuk mengurangi sampah plastik. Pedagang mulai sadar, walaupun faktor utamanya tetap karena biaya,” katanya. Di sisi lain, alternatif kemasan tradisional kembali digunakan. Sejumlah pedagang mulai memanfaatkan daun pisang sebagai pembungkus, terutama untuk komoditas basah. Selain itu, sebagian konsumen juga mulai membawa kantong belanja sendiri saat bertransaksi. Perubahan perilaku tersebut dinilai sebagai respons adaptif antara pedagang dan pembeli di tengah tekanan harga. Kebiasaan membawa tas belanja sendiri yang sebelumnya belum umum, kini perlahan mulai terlihat di sejumlah pasar. Namun demikian, dampak ekonomi tetap dirasakan pedagang. Aeni (60), pedagang di Pasar Pagi Cirebon, mengaku kenaikan harga plastik cukup memberatkan usahanya. Ia menyebut harga kantong plastik yang sebelumnya sekitar Rp8.000 per kemasan kini meningkat menjadi Rp12.000 sejak awal April 2026. Kenaikan tersebut sempat mendorongnya menaikkan harga jual barang dagangan. Namun, langkah itu tidak bertahan lama karena konsumen mengurangi pembelian. “Pembeli jadi berkurang. Sekarang untuk dapat Rp100 ribu saja lebih sulit, padahal dulu bisa sampai Rp250 ribu sampai Rp300 ribu per hari,” ujarnya.
Harga Plastik Naik Gila-gilaan
Harga plastik naik gila-gilaan! Pembeli syok, biasanya Rp 20.000 kini tembus Rp 40.000. Kenaikan 100% ini sangat memberatkan warga dan pedagang kecil di pasar. Para pedagang di pasar tradisional mulai membatasi penggunaan kantong plastik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi modal tetap usaha seiring kenaikan harga plastik imbas perang di Timur Tengah. Kondisi ini tentu sangat berimbas ke para pembeli produk plastik di pasar, yang mana mayoritas adalah pedagang makanan atau pemilik kantin. Sebab kenaikan harga ini langsung membuat modal mereka untuk berdagang meningkat pesat. Salah satunya ada Bagas, penjual bakmi Jawa yang kerap membeli wadah makanan plastik atau thinwall untuk pembelian yang dibawa pulang. Ia mengatakan kenaikan harga ini sudah mulai dirasakan sekitar dua minggu lalu, namun saat itu kenaikan harga belum separah ini. “Sekarang parah sih, biasa beli Rp 20.000 – 25.000, sekarang Rp 40.000,” kata Bagas saat membeli thinwall di Pasar Gondangdia, Kamis (9/4/2026). Pada akhirnya ia mengaku di tempatnya berjualan, khusus untuk pembelian dibawa pulang dikenakan tambahan biaya sebesar Rp 2.000 per bungkus. Sementara untuk makan ditempat, harga masih sama dan tak mengalami perubahan. “Ya paling kita tambah Rp 2.000 buat yang dibungkus, kalau makan di tempat masih sama,” ujarnya singkat. Hal serupa juga disampaikan oleh Naya, pemilik warung nasi di dekat Stasiun Gondangdia, yang datang ke pasar untuk membeli wadah styrofoam yang ternyata juga ikut mengalami kenaikan. “Ini (styrofoam) naik juga lah. Ini yang isi 100 biasanya Rp 30.000, ini Rp 40.000,” ucap Naya. Selain menggunakan wadah styrofoam, warung makannya juga kerap menggunakan thinwall untuk bungkus makan atau pesanan dalam jumlah banyak. Sebab ia hanya menggunakan wadah styrofoam untuk pesanan yang akan dibagi-bagikan di jalan. “Kalau styrofoam buat besok, buat berbagi doang. Kalau dibungkus biasa tetap pakai thinwall. Aku thinwall biasanya kan beli online. Biasanya dulu Rp 37.000, sekarang jadi Rp 54.000 – 55.000,” terangnya. Kondisi ini tentu membuat Naya menjadi bingung, sebab kenaikan harga modal beli plastik ini tak bisa diiringi dengan kenaikan harga jual di warungnya. Takut pelanggan pindah ke warung lain karena kenaikan harga. “Bingung mau naikin harga. Karena customer itu kan mereka cari perbandingan harga gitu loh. Tapi itu plastik naik Rp 6.000 sekarang. Kantong plastik (kresek) sedang yang putih kayak gini tuh Rp 20.000. Dulu Rp 14.000, naik Rp6.000. Gelas buat minum kayak es teh manis gitu sekarang jadi Rp 22.000, dulu kita beli Rp 18.000,” tutur Naya. “Serba salah kitanya, mau dinaikin dilema, nggak dinaikin dilema. Ya kalau gini terus bertahap lah naiknya, pelan-pelan,” ucapnya lagi sembari memikirkan kemungkinan adanya kenaikan harga jual ke depan. ada juga pelanggan yang sengaja membeli plastik kresek dengan harga lebih murah saat mengetahui harga plastik kresek putih sedang yang biasa ia beli sudah naik cukup tinggi.
Naik Harga Plastik, Naik Biaya Produksi Air
Harga plastik naik, tekan biaya produksi air kemasan. Produsen dilema naikkan harga atau pangkas margin. Beban operasional berat, ancam stabilitas industri! Kenaikan harga plastik kembali menekan biaya produksi industri air minum dalam kemasan. Pegawai PT Sembilan Pilar Utama, Muhammad Yogi Yusuf, mengatakan kenaikan tersebut membuat harga air kemasan harus disesuaikan. Harga per dus naik sebesar Rp3.500 agar operasional perusahaan tetap berjalan.Ia menyebutkan harga bahan baku plastik melonjak hingga 70 persen, sehingga berdampak langsung pada peningkatan biaya pembuatan setiap produk. Menurut Yogi, reaksi mitra usaha dan pengecer juga menunjukkan kekecewaan. Banyak di antara mereka mengurangi jumlah pembelian dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, aktivitas produksi di gudang tetap berlangsung setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Kenaikan harga bahan baku plastik sudah mencapai 70 persen dan ini berdampak langsung pada biaya produksi. Karena harga plastik meningkat, harga air kemasan terpaksa ikut naik sebesar Rp3.500 per dus agar operasional perusahaan tetap berjalan,” ujarnya. Yogi menambahkan bahwa perusahaan khawatir apabila harga plastik terus naik. Biaya pengemasan dan ketersediaan bahan baku dikhawatirkan menjadi kendala karena beberapa pemasok mulai membatasi jumlah pengiriman plastik. Perubahan kondisi harga bahan baku menuntut industri air minum dalam kemasan untuk lebih adaptif dalam menjaga kelangsungan produksi. Meski tekanan biaya semakin meningkat, perusahaan berharap suplai air kemasan tetap stabil sehingga kepercayaan mitra usaha dan konsumen dapat terjaga.
BBM Belum Naik tapi Harga Plastik mahal
BBM belum naik, tapi harga plastik sudah melonjak 300%. Pedagang menjerit karena biaya operasional membengkak drastis. Beban modal makin berat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah memantau harga plastik melonjak hingga 300 persen di tingkat pemasok lokal. Kenaikan tersebut terjadi karena sumber bahan baku plastik merupakan bahan impor yang terdampak perang di Timur Tengah. “Plastik itu bahan bakunya impor sehingga di tingat suplier lokal naik sampai 300 persen,” ucap Kepala Disperindag Jateng July Emmylia, Selasa (7/4/2026). Meskipun ada kenaikan harga bahan baku mencapai ratusan persen, Emmylia mengklaim harga plastik di pasaran belum mengalami gejolak. Hal ini terjadi karena para suplier masih bisa menekan harga dengan melakukan penghematan bahan baku dari stok lama. “Kenaikan memang ada, tetapi secara umum belum ada yang secara resmi mengadukan kenaikan harga plastik ke kami,” ucapnya. Ia menyebut, Kenaikan plastik ini berpengaruh kepada para pelaku industri dan pedagang yang menyediakan plastik sebagai wadah belanja bagi konsumen. Ia sendiri tidak hafal jumlah produsen plastik yang berada di wilayah Jawa Tengah. “Kalau ke rumah tangga tidak terlalu berpengaruh ya,” bebernya. Lepas dari dampak itu, pihaknya kini masih menyusun transformasi bahan baku plastik industri ke bahan baku lokal yang lebih ramah lingkungan. Format green industri ini salah satunya dengan menggunakan bioplastik berbahan tepung pati singkong. Namun, bahan alami ini ternyata lebih mahal dibandingkan dengan plastik impor. “Kami sudah ada hitungannya, selepas disimulasi ternyata harga bioplastik HPP (Harga Pokok Penjualan) naik sampai 20 persen, harga HPP naik pasti pengaruhi harga jual,” terangnya. Selain itu, pihaknya kini masih menyusun rancangan imbauan kepada masyarakat agar mengurangi plastik sekali pakai dan melakukan penghematan penggunaan plastik. “Kalau dari Kemendag (Kementerian Perdagangan), belum ada instruksi khusus soal ini,” bebernya. Perusahaan Merugi Sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi mengatakan, kenaikan harga biji plastik di level pengusaha di Jateng mencapai 100 persen. Kenaikan tersebut menyebabkan pengusaha merugi. Kenaikan tersebut tidak hanya berdampak ke pengusaha plastik melainkan perusahaan garmen karena menggunakan poliester yang merupakan berbahan dasar serat plastik. “Pabrik bahan plastik merugi luar biasa, teken kontrak suplai produk plastik harga normal tapi harga bahan baku justru melambung naik,” tambahnya.
Pedagang Mengeluh Harga Plastik Melonjak
Pedagang mengeluh Harga plastik melonjak 3 kali lipat, bikin modal membengkak dan untung menipis. Beban rakyat makin berat Harga plastik di pasaran mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, bahkan mencapai tiga kali lipat di sejumlah wilayah. Kenaikan harga terjadi sebagai dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak global naik signifkan. Jakarta Selatan pada Senin (6/4) menunjukkan adanya kenaikan harga pada berbagai jenis plastik, mulai dari kantong hingga sedotan. Mustaroh, penjual es kelapa di kawasan tersebut mengaku kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis plastik yang ia gunakan untuk berjualan. “Semua merk naik semua,” kata Mustaroh saat ditemui di kedainya. Ia merinci, harga plastik kantong naik dari Rp15 ribu menjadi Rp23 ribu, sementara sedotan naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu. Bahkan, plastik kemasan merek tomat melonjak dari Rp36 ribu menjadi Rp60 ribu per pak. “Ini saya beli langsung di toko plastik, kalau eceran pasti lebih mahal lagi,” ujarnya. Meski biaya operasional meningkat, Mustaroh mengaku belum menaikkan harga jual es kelapa. “Nggak (menaikkan harga es kelapa). Jadi ini kita udah aduh-aduhan banget,” katanya. Keluhan serupa disampaikan Yusni, pemilik kios plastik di Pasar Lenteng Agung. Ia menyebut kenaikan harga sudah terjadi sejak bulan puasa. “Naik tiga kali lipat semua,” ujar Yusni Pedagang tersebut mengeluhkan selain harga yang melonjak, ketersediaan barang juga menjadi masalah. “Pembeli tetap ada, tapi ya gitu, barangnya yang nggak ada,” tambahnya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengandalkan impor plastik dan produk turunannya. Sepanjang Februari 2026, nilai impor plastik mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,84 triliun. Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut impor tersebut berasal dari sejumlah negara utama. “Impor plastik atau barang dari plastik di Februari 2026 mencapai US$873,2 juta,” ujar Ateng dalam konferensi pers Ia menambahkan, impor terbesar berasal dari China sebesar US$380,1 juta, disusul Thailand US$82,7 juta dan Korea Selatan US$66,7 juta. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui telah menerima keluhan dari para pedagang terkait kenaikan harga plastik. “Saya dengar bijih plastiknya naiknya luar biasa. Karena plastik itu kan dari BBM,” kata Zulkifli. Ia menyebut pemerintah akan membahas kenaikan harga tersebut dengan pihak terkait. “Ya nanti kita akan bahas secara khusus, kok tiba-tiba naiknya begitu tinggi. Kita akan undang beberapa pihak terkait,” ujar Zulhas sapaan akrabnya.
Dari plastik sampai kosmetik mulai naik
Dari plastik sampai kosmetik Harga barang di Indonesia mulai naik imbas konflik Timur Tengah Sebagian pedagang kecil di Indonesia terpaksa memangkas keuntungan karena kenaikan harga plastik yang pasokan bahan bakunya terganggu konflik di Timur Tengah. Mereka mengaku harus “mengalah” agar tidak membebani pengeluaran masyarakat. Harga bahan baku plastik, yaitu nafta senyawa hidrokarbon hasil turunan minyak bumi naik hampir 45% dalam satu bulan terakhir. Di dunia industri, gabungan pengusaha makanan dan minuman melaporkan harga plastik kemasan sudah naik hingga 50%. Di sisi lain, perusahaan yang bergerak dalam rantai industri petrokimia dan plastik mengatakan sedang dalam “mode bertahan”. Pemerintah sedang mengupayakan sumber pasokan bahan baku plastik di luar negara-negara Timur Tengah. Selain plastik, sejumlah harga barang lain seperti suplemen, obat, dan kosmetik juga naik akibat perang di Timur Tengah. Para ekonom memperingatkan Indonesia dapat diterjang badai PHK dan ancaman inflasi tinggi jika perang yang diawali serangan AS-Israel ke Iran ini berkepanjangan, tanpa diikuti kebijakan yang tepat. Di sisi lain, pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi dampak ekonomi dari perang Timur Tengah. Paket kebijakan ini diklaim bisa menghemat anggaran ratusan triliun rupiah, meskipun efektivitasnya dipertanyakan. ‘Pedagang harus mengalah’ Sejumlah pedagang plastik di pasar tradisional di beberapa kota besar menyatakan tak bisa menahan harga lagi. Tapi mereka terpaksa mengambil keuntungan tipis demi menjaga pasar. Ada pula sejumlah pedagang kecil yang rutin menggunakan plastik yang tetap mempertahankan harga, walau pembeli semakin sepi. Harga plastik dan beberapa produk turunannya, seperti gelas dan sedotan di Padang, Sumatra Barat, naik hingga 50%. “Kenaikan harganya sejak lebaran lalu dan sampai saat ini harga barang-barang plastik ini harganya tidak turun lagi,” kata salah seorang pedagang minuman keliling di Kota Padang, Meliatrisinta, Kamis (02/04). Perempuan 29 tahun ini menuturkan, gelas plastik ukuran 16 oz (473 mililiter) biasanya dijual Rp24.000 per 50 gelas. Sekarang harganya naik jadi Rp29.000. Gelas plastik ukuran 400 mililiter juga naik dari Rp14.000 menjadi Rp21.000 ribu. Bukan hanya gelas plastik, harga bahan baku dagangan Meliatrisinta, seperti gula dan susu kental manis, juga naik. Melia hanya bisa menerima keadaan dan mengambil untung tipis. “Kalau isinya dikurangi tentu nanti langganan komplain. Apalagi menaikkan harga, pembeli saya biasanya hanya para siswa Sekolah Dasar (SD) yang uang jajannya terbatas,” katanya. Melia mempertahankan harga paling mahal Rp8.000 dan paling murah Rp5.000 per gelas. Tafrizal, 58 tahun, pedagang minuman keliling lainnya merasakan hal yang sama. Selain harga bahan baku naik, ia berkata jumlah pembeli turun hingga 50%. “Bahkan ada kemarin itu saya hanya membawa pulang uang Rp60.000. Itu saya sudah mulai berjualan dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB,” katanya. Selain bahan pokok dan plastik, harga obat-obatan yang dijual di apotek-apotek Kota Padang juga mengalami peningkatan sejak beberapa pekan terakhir. Pengelola apotek di Kota Padang, Debi Septia Nanda mengaku harga beberapa jenis suplemen dan obat naik hingga 15% sejak tiga pekan terakhir. Meski tidak seluruh jenis obat-obatan mengalami peningkatan harga, tapi itu menjadi pertanyaan bagi para pelanggan. “Biasanya mereka tanya kenapa harganya naik dan kami juga tidak bisa menjelaskan banyak, karena kenaikan harga itu memang sudah dari sananya,” kata perempuan 25 tahun ini. Di kesempatan lain, beberapa toko kosmetik juga mengaku produk yang mereka jual mengalami kenaikan meskipun “tidak terlalu signifikan”. “Kenaikan harganya itu hanya seperti Rp1.000 hingga Rp2.000 saja,” kata Reska Yuliana, seorang pedagang kosmetik berusia 29 tahun. “Kosmetik sudah menjadi kebutuhan, terlebih untuk perempuan. Jadi kalaupun harganya naik, mereka akan tetap membeli,” ucapnya. Penjual seblak di Jakarta Timur, Sismiati, hanya bisa geleng kepala karena kenaikan harga plastik dan Styrofoam. Musababnya, untuk mengemas makanan dengan citra rasa pedas dan aroma kencur yang kuat ini, ia membutuhkan tiga lapisan pembungkus: dua plastik kresek dan satu stirofoam. “Sebelum puasa itu harganya masih Rp20.000 (isi 100). Nah pas puasa kemarin naik jadi Rp25.000. Pas lebaran kemarin Rp35.000, kemarin naik lagi ada yang Rp40.000,” kata Sismiati. Sismiati berkata, dia harus “mengalah” mengambil keuntungan yang semakin tipis dengan menahan harga dagangannya. “Kasihan mereka nggak bisa beli. Jadi aku tetap enggak menaikkan harga,” ujar perempuan yang menjual seblak tiga tahun terakhir. “Pedagang harus mengalah, karena melihat masyarakat juga kebingungan. Mereka gaji enggak naik, tapi semua harga serba naik”. Keluhan yang sama disampaikan pedagang di Makassar, Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah Hastina, seorang pedagang kebutuhan berbahan plastik seperti gelas kopi, wadah makanan, hingga kantong plastik di Pasar Pabaeng-Baeng. Selama berjualan 10 tahun, baru kali ini Hastina mendapat kenaikan harga barang yang begitu mahal. “Dulu naik cuma Rp1.000 sampai Rp2.000. Sekarang Rp 5.000 atau di atasnya lagi. Seumpama harganya kantong plastik Rp3.000, naik Rp 5000. Jadi Rp 8000,” katanya. Kenaikan harga plastik kresek ini tergantung ukurang. Sementara barang-barang lain seperti gelas plastik juga mengalami kenaikan harga. “Saya biasa jual Rp 10.000. Kan modal Rp 8000, jadi untung Rp 2000. Itu dulu. Kalau sekarang modalnya Rp12.500, jadi kita mau jual berapa coba? Rp13.500, untung Rp1.000,” ujar Hastina. Mahalnya harga barang-barang tersebut juga berdampak pada pembeli di pasar, yang semakin berkurang. “Sebenarnya di pasar ini sudah lama berkurang pembeli. Sekarang tambah mahal apa-apa, lebih berkurang lagi,” kata Hastina. Ronny yang berjualan bahan plastik di Pasar Panakkukang, menyiasati menaikkan harga barang secara perlahan dengan stok lama. “Saya sesuaikan dengan stok yang ada,” katanya. Untuk menjaga pasar, penjual grosiran ini pun memilih untuk mengambil “untung tipis”. “Sekarang paling kita cuma bisa untung 10 persen saja dari harga jual karena harga berubah-ubah,” katanya. Pedagang kosmetik dan obat-obatan di Makassar, Irma, mengaku belum merasakan dampak kenaikan harga tapi beberapa obat sempat naik harganya. “Sebelum lebaran ada kenaikan beberapa biji, tapi yang lain masih sama harganya. Naik Rp3.000,” katanya. Kenaikan harga sejumlah obat juga mulai terjadi di tingkat apotek di Jayapura, Papua, sejak awal 2026. Meski berlangsung bertahap dan belum signifikan, perubahan ini mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Tenaga Apotek Furia Farma, Della Lestari, mengatakan tidak semua produk mengalami kenaikan. Namun, beberapa jenis obat terutama yang sering digunakan menunjukkan tren peningkatan harga dalam beberapa bulan terakhir. Obat bebas seperti vitamin menjadi salah satu yang paling terasa kenaikannya. Selain itu, obat bermerek dan kombinasi seperti obat flu dan batuk juga mengalami peningkatan harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan jenis lain. Obat generik cenderung lebih stabil dan belum
Tren Tumbler dan Tas Ramah Lingkungan
Tren Tumbler dan tas ramah lingkungan membuat banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan terus meningkat. Salah satu bentuk nyata yang kini semakin terlihat adalah kebiasaan membawa tumbler dan tas belanja sendiri dalam aktivitas sehari-hari. Tren ini tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di berbagai tempat, mulai dari kafe hingga pusat perbelanjaan, masyarakat mulai terbiasa membawa tumbler untuk mengisi ulang minuman. Selain lebih hemat, langkah ini juga dinilai efektif dalam mengurangi sampah plastik dari botol minuman sekali pakai. Sementara itu, penggunaan tas kain atau totebag juga semakin populer sebagai pengganti kantong plastik. Fenomena ini didorong oleh meningkatnya kampanye lingkungan yang masif di media sosial. Banyak komunitas dan individu yang aktif mengedukasi publik tentang dampak negatif sampah plastik terhadap ekosistem, terutama di wilayah pesisir dan laut. Menurut berbagai sumber, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten oleh banyak orang. Dikutip dari United Nations Environment Programme, penggunaan barang pakai ulang seperti tumbler dan tas belanja dapat secara signifikan mengurangi jumlah sampah plastik global. Namun demikian, tantangan masih tetap ada. Tidak semua masyarakat memiliki akses atau kesadaran yang sama terhadap pentingnya gaya hidup ramah lingkungan. Selain itu, faktor kebiasaan dan kenyamanan juga menjadi hambatan dalam mengubah perilaku. Meski begitu, tren ini menunjukkan arah positif. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mulai peduli, diharapkan kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler dan tas belanja sendiri dapat menjadi norma baru dalam kehidupan sehari-hari.
Dukung Program Bupati UMKM Sintang
Dukung Program Bupati, UMKM Sintang Kembangkan Tas Reuseable KBRN, Sintang : Dalam upaya mendukung program Bupati Sintang untuk menekan penggunaan kantong plastik sekali pakai yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya volume sampah, pegiat UMKM Galeri Kain Pantang Sintang meluncurkan inovasi baru berupa tas belanja reuseable yang dapat digunakan berkali-kali. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sintang, di mana Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala sejak 1 Desember 2025 telah mengeluarkan Surat Edaran Bupati tentang pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di seluruh wilayah Kabupaten Sintang. Hetty Kus Endang, pemilik Galeri Kain Pantang Sintang, menjelaskan bahwa tas belanja yang diproduksinya dibuat dari kombinasi kain pantang—kain khas Kabupaten Sintang—dengan bahan spunbond yang dikenal kuat dan tahan membawa berbagai jenis barang belanjaan. Ia menegaskan, tas ini didesain praktis karena dapat dilipat kecil sehingga mudah dibawa, namun memiliki kapasitas cukup besar untuk menampung banyak barang. “Untuk mendukung program Bupati Sintang menekan penggunaan kantong plastik yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya volume sampah. Galeri Kain Pantang meluncurkan inovasi baru, yaitu membuat tas belanja yang bisa dipakai ulang, yang dapat digunakan berkali-kali. Nah, ini juga menjadi terobosan kami untuk solusi ramah lingkungan, sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra lokal Kabupaten Sintang,” ujar Hetty. Sejak merintis Galeri Kain Pantang, Hetty memang selalu mengedepankan produk-produk ramah lingkungan. Ia menggunakan bahan pewarna alami dalam proses produksi kain dan bahkan mengembangkan inovasi daur ulang sampah plastik menjadi tas belanja. Upaya tersebut sempat mendapat apresiasi dari Sulistyawan Wibisono, Presiden Indonesia Diaspora Network Global saat Galeri Kain Pantang mengikuti Kongres Diaspora Indonesia di IKN (Ibu Kota Nusantara) pada Agustus 2025 lalu. “Ini yang membuat saya bangga, bahwa tas yang dipakai oleh Hetty dan Galeri Kain Pantang adalah tas dari bahan-bahan recycle. Jadi daripada memproduksi atau membeli tas-tas kresek baru, lebih baik yang recycle. Karena apabila direcycle, maka mengurangi potensi pembuangan bahan-bahan plastik yang susah diolah oleh tanah. Dan ini harus banyak dipromosikan kepada anak-anak muda, anak-anak muda untuk lebih digerakkan supaya sadar angka pentingnya menjaga lingkunga,” ujarnya. Dukungan terhadap gerakan penggunaan tas belanja reuseable ini juga datang dari Ny. Erni Ronny, istri Wakil Bupati Sintang, yang turut mempromosikan tas ramah lingkungan karya Galeri Kain Pantang. Menurutnya, upaya tersebut bukan hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberdayakan pelaku UMKM lokal. Dengan hadirnya produk inovatif ini dan dukungan kebijakan pemerintah daerah, Galeri Kain Pantang Sintang berharap masyarakat semakin terbiasa membawa tas belanja sendiri. Langkah bersama ini menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menekan produksi sampah plastik di Kabupaten Sintang.
Pilih Spunbond untuk Bungkus Buah Anggur
Pilih Spunbond untuk Bungkus Buah Anggur karena Tahan Air Teknik membungkus buah telah banyak diketahui. Ada yang menggunakan kresek, plastik, kertas, hingga spunbond. Berikut kelebihan dan kekurangan penggunaan bahan pembungkus tersebut untuk menjaga kondisi buah tetap aman hingga layak panen. Ada sejumlah cara merawat tanaman yang masuk kategori sebagai frutikultura itu agar tumbuh lebat dan berbuah segar. Tetapi, ada satu teknik yang acap kali dianggap remeh dan dilupakan pemula. Yaitu, metode membungkus buah di pohon. Manfaat lainnya adalah mencegah buah dihinggapi lalat buah yang mengakibatkan larva berkembang biak. Hal tersebut menyebabkan bagian dalam buah rusak meskipun tampilan luarnya masih bagus. Photo Caranya, buat lubang kecil-kecil dan potong sedikit bagian bawah kantong plastik yang telah disiapkan. Dengan begitu, udara dan air dapat bersirkulasi dengan lancar. Setelah itu, plastik cukup diikat dengan kuat agar saat hujan atau disiram, air tidak merembes masuk. ukuran plastik harus selalu dipantau untuk menyesuaikan dengan buah yang terus tumbuh. Saat ini menggunakan fruit cover siap jadi berbahan kain spunbond. Pertimbangannya, fruit cover tersebut dapat digunakan tiga hingga lima kali, bergantung masa panen. Dan, tidak perlu ribet melubangi karena bahan spunbond tidak kedap udara, tapi tahan air. tidak menyarankan membungkus buah menggunakan koran atau kertas. Sebab, bahan tersebut mudah rusak akibat air dan kurang indah jika dilihat secara estetika. Menurut dia, perbedaan antara buah yang dibungkus dengan fruit cover dan yang tidak bisa dilihat dari tampilan luarnya. Buah yang dibungkus fruit cover memiliki warna lebih cerah merata serta kulit buah lebih mulus jika dibandingkan dengan yang tidak. Untuk anggur, fruit cover bisa digunakan sejak buah berukuran 3 milimeter dan dapat dilepas ketika sudah matang. Buah yang telah dibungkus tidak berarti 100 persen aman dari hama. Dia mengungkapkan, pembungkus buahnya yang sudah siap panen kali ini masih bisa dilubangi kelelawar. Karena itu, pengecekan rutin harus dilakukan. Jika ditemukan ada yang rusak, sebaiknya dilakukan penjarangan buah.
Solusi Tas Spunbond Menumpuk
Solusi Tas Spunbond Menumpuk, Jangan Diperlakukan Seperti Kantong Plastik Coba cek, adakah tumpukan tas spunbond di rumah? Sebab, tas yang umumnya berbahan kuat ini kerap diperlakukan layaknya kantong plastik sekali pakai di Indonesia. Sistem penggunaan ulang tas spunbond di Indonesia masih belum terbentuk sehingga sering kali dibiarkan menumpuk di rumah sehabis berbelanja. Indonesia perlu membentuk sistem yang memungkinkan tas spunbond dipakai berulang kali sampai rusak. Misalnya, sistem pengembalian tas spunbond kepada restoran, retail, atau tenant terkait lainnya sebagai pihak penyedianya. Atau, sistem pengembalian atau pendonasian tas spunbond di beberapa titik pasar tradisional. Tas spunbond sebenarnya bisa diperbaiki jika sudah rusak untuk mempertahakan sifat guna ulangnya. Namun, edukasi penggunaan berulang tas spunbond belum masif. Solusi tas spunbond yang menumpuk membuat titik pengembalian tas spunbond tas spunbond tidak pernah disebutkan secara spesifik sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai dalam berbagai peraturan daerah terkait. Tas spunbond hanya menjadi salah satu alternatif pengganti kantong plastik sekali pakai karena sifatnya yang bisa digunakan ulang dan tidak diberikan secara gratis kepada konsumen. Oleh sebab itu, di Jakarta telah dibuat titik-titik pengembalian atau pendonasian tas belanja guna ulang dari bahan apa pun, termasuk spunbond, di sejumlah pasar tradisional. Tujuannya agar tas spunbond bisa digunakan kembali oleh konsumen pasar tradisional sehingga tidak menjadi sampah dan mengurangi pemakaian kantong plastik ketika berbelanja. Bolehkah tas spunbond diberikan gratis? Tas spunbond yang saat ini menumpuk di rumah konsumen, kebanyakan diperoleh dari belanja online (daring). Khususnya, jika memesan secara online, konsumen tidak mempunyai pilihan untuk membawa makanan atau minumannya selain dengan tas spunbond itu. Padahal, tas spunbond masih mengandung plastik, yang dilarang diberikan secara gratis. Larangan itu salah satunya tercantum dalam Pergub Jakarta Nomor 142 Tahun 2019 adalah tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan (KBRL). Namun, belum ada regulasi yang memungkinkan sistem penggunaan ulang tas spunbond terbentuk dalam ranah transaksi secara online. Di sisi lain, pengawasan terhadap penggunaan kantong yang bersifat sekali pakai dalam ranah transaksi secara online juga perlu diperketat.