Harga plastik naik, UMKM Jember putar otak! Lewat inovasi produk & efisiensi, produksi tetap jalan demi jaga pasar. Semangat kreatifitas pengusaha lokal Jember.

Tangerang, Camelosatu – Lonjakan harga bahan baku plastik hingga lebih dari 50 persen mulai memberi tekanan pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Jember. Kenaikan biaya produksi ini mendorong pelaku usaha memutar strategi agar tetap bertahan tanpa kehilangan pasar.
Dalam dialog Jember, Senin 27 April 2026, pelaku UMKM bersama akademisi membahas berbagai langkah adaptif menghadapi kenaikan harga kemasan plastik yang berdampak langsung terhadap ongkos produksi dan harga jual produk.
Pemilik Paktara Craft, Lidiyanti Astika Ningrum, mengatakan kenaikan harga bahan baku memaksanya menyesuaikan harga jual produk tas anyaman sekitar Rp1.000 per unit. Namun, ia memilih tidak memangkas margin yang berpengaruh terhadap kesejahteraan perajin.
“Kami memilih beradaptasi dengan menaikkan harga secara wajar, tapi kualitas produk dan keberlangsungan perajin tetap harus dijaga,” ujarnya.
Sementara pemilik usaha minuman rempah daun kumis kucing, Dewi, memilih strategi berbeda. Alih-alih menaikkan harga jual, ia mengurangi volume produk dari 330 mililiter menjadi 250 mililiter agar tetap terjangkau bagi konsumen.
Strategi ini, menurutnya, menjadi solusi menjaga loyalitas pelanggan di tengah tekanan biaya produksi.
Akademisi STIPER Jember, Rival Andika Pratama, menjelaskan kenaikan harga plastik merupakan tantangan serius karena termasuk komponen biaya variabel yang langsung memengaruhi harga pokok produksi.
Ia menyebut setidaknya ada tiga opsi yang bisa ditempuh pelaku usaha, yakni menyesuaikan harga, mengurangi margin keuntungan, atau mencari bahan substitusi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Dalam situasi seperti ini, inovasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan agar UMKM tetap kompetitif,” katanya.
Sejumlah inovasi mulai diterapkan. Paktara Craft melakukan redesain produk agar penggunaan bahan lebih efisien, sementara alternatif kemasan seperti bambu dan besek mulai dilirik sebagai pengganti plastik.
Di sisi lain, sistem isi ulang (refill) juga mulai diperkenalkan kepada konsumen. Dewi mengaku mendorong pelanggan membawa wadah minum sendiri saat membeli produknya, dan respons pasar cukup positif.
Selain inovasi usaha, peran perguruan tinggi juga dinilai penting dalam mendampingi UMKM. Rival menilai program pengabdian masyarakat dan KKN dapat diarahkan untuk membantu efisiensi kemasan, literasi digital, hingga riset terapan yang relevan bagi pelaku usaha.
Meski menghadapi tekanan biaya, para pelaku UMKM tetap optimistis. Mereka menilai pengalaman menghadapi krisis, termasuk masa pandemi, menjadi modal untuk bertahan menghadapi tantangan baru.
“Apapun tantangannya, UMKM harus terus bergerak dan berproduksi. Kuncinya berani berinovasi,” ujar Dewi.
Dialog tersebut menegaskan kenaikan harga bahan baku tidak semata menjadi ancaman, tetapi juga momentum bagi UMKM untuk bertransformasi menuju model usaha yang lebih adaptif dan berkelanjutan.