Harga plastik naik, pedagang es di Medan mengeluh keuntungan anjlok hingga 20%. Beban modal makin berat, pedagang dilema naikkan harga

Tangerang, Camelosatu – Pedagang es di Kota Medan mengeluh karena ada kenaikan harga plastik. Melambungnya harga plastik membuat keuntungan pedagang ikut turun hingga 20 persen.
“Terasa loh turun keuntungan itu, kalau dihitung mungkin ya 10 atau 20 persen lah. Mungkin sepele ya naiknya plastik, tapi pembeli kan ngga satu jadi terasa kali,” ujar pedagang es, Anggi, Selasa (21/4/2026).
Anggi mengaku tidak bisa mencari alternatif lain pengganti plastik sebagai wadah. Ia menyebut jika harga plastik terus naik, maka kemungkinan harga jual dagangannya juga akan naik.
“Karena aku jual es kan, kalau nggak plastik mau pakai apa? Pakai cup belum untuk nge-seal nya plastik juga, abis itu nggak mungkin yang beli nggak dikasih plastik gimana bawa nya. Kalau terus naik mau nggak mau harganya naik sikit,” lanjutnya.
Pedagang lain, Siti mengaku karena kenaikan harga Styrofoam, dirinya terpaksa menambahkan harga seribu rupiah jika pelanggan tidak makan di tempat.
“Bubur aku pakai styrofoam, di bawahnya dilapisi plastik karena katanya nggak bagus styrofoam kena makanan langsung. Kalau yang nggak makan ditempat harganya aku tambahin seribu,” ujarnya.
Menurut Siti menaikkan harga dagangan merupakan langkah yang tepat dibandingkan harus menurunkan kualitas makanan atau mengurangi porsinya.
“Menurutku lebih baik dinaikkan daripada harus turun kualitas, apalagi kalau porsinya dikurangi, nanti pelanggan kecewa,” tutupnya.
Sebelumnya (12/4/2026) diketahui bahwa harga plastik memang sedang naik. Kabid Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Disperindag ESDM Sumut Charles Situmorang, mengungkapkan kenaikan ini terjadi lantaran beberapa faktor.
Charles menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia dan juga konflik di Timur Tengah ikut mempengaruhi kenaikan harga plastik di Indonesia.
“Kondisi ini terjadi bukan di Sumut saja, namun sudah skala Nasional karena faktor utamanya bahan impor yang terkendala. Kenaikan harga minyak dunia. Plastik berbahan dasar petrokimia membuat harga minyak naik yang kemudian biaya produksi plastik ikut naik,” kata Charles.
“Gangguan pasokan bahan baku (nafta/resin) dan juga Konflik global menghambat distribusi dari Timur Tengah (sumber utama impor Indonesia),” lanjutnya.